Jumat, 02 Desember 2016

Persiapan Lamaran

Ejiyee akhirnya dilamar :)

Saya mau cerita tentang lamaran kemarin karena merasa terbantu dengan cerita para blogger mengenai printilan lamaran, sepertinya saya ingin berbagi cerita. Persiapan lamaran ini cukup unik nan ribet karena saya di Kefamenanu (NTT), pacar di Bandung, keluarga saya di Jakarta dan keluarga pacar di Wonosobo. Bukan kita saja yang LDR tapi sama keluarga juga kami LDR hiks. Praktis segala halnya komunikasi via telpon dan bantuan kakak saya di Jakarta. 

Lamaran ini sebenarnya ingin simple aja seperti temu keluarga. Namun, tetap saja jadinya memang banyak hal yang diurusi. Jadi, bagi-bagi tugas deh sama pacar. Berikut printilan lamaran yang disiapkan.

Seserahan

Untuk seserahan lamaran ini saya belum mau seserahan komplit keperluan saya. Jadi, bawaan seserahan hanya makanan dan buah saja. Karena pacar yang akan datang mepet ke Jakarta dan tidak memungkinkan bawa banyak bawaan seserahan dari luar kota. Akhirnya, seserahan ini saya yang handle.

Googling tentang packaging seserahan ini ada beberapa opsi. Pertama, beli isi dan kotaknya sendiri. Kedua, isinya beli sendiri tapi kotaknya sewa. Ketiga, jasa seserahan dimana isinya dan kotaknya udah jadi. Awalnya saya pilih opsi ketiga karena nggak mau ribet dan nemu jasa seserahan yang dekat dari rumah dengan harga yang reasonable.

Setelah pulang ke rumah justru jadi pilih opsi pertama karena pertimbangan kuenya bisa milih sesuai selera lebih baik beli sendiri. Oke, untuk kue saya pilih kue kering, cupcake dan red velvet yang pesan di Fairmont Bakery dan Dapur Cokelat . Setelah itu cari kotak seserahan di Mayestik, di lantai basement itu banyak banget toko kotak seserahan, lucu-lucu pula.

Ternyata selain jual kotak, tokonya jual jasa juga buat menghias. Jadi, kita sudah bawa kue keringnya dan pilih mau pakai kotak mana kemudian langsung dihias sama masnya. Pilihan jatuh pada toko Immanuel, tokonya dekat eskalator. Tidak sempat keliling buat membandingkan harga, saya pilih karena di toko ini banyak pilihan kotak. Untuk kotak sekitar ukuran 20-25 cm sudah dengan hiasan harganya 60ribu rupiah.

Aneka cokelat di Dapur Cokelat

Cake dari Fairmont

Toko Kotak Seserahan Pilihan Saya

Lagi Nunggu Masnya Hias Kotak, Foto-Foto Dulu

Seserahan Acara Lamaran, Abaikan Yang Di Belakang ya :) 


Cincin

Lamaran sebenarnya bisa tanpa cincin tapi kami maunya pakai cincin, yowis pak pacar yang urus tentang cincin karena dia lagi di Bandung. Urus tentang cincin juga agak ribet karena posisi LDR kami ini hehe. Nanti saya buat posting tersendiri tentang cincin ya :)

Cincin Lamaran

Akomodasi

Posisi keluarga pacar yang beda kota ini pun buat kita harus punya porsi mikirin penginapan, transportasi dan lainnya. Mencari penginapan pun pertimbangannya banyak, konsep penginapan yang homey, ada tempat  parkir, nggak jauh rumah saya dan tentunya aksesnya mudah.

Catering

Kalau ini hak prerogatif ibu dan ayah saya yang ingin catering bukan masak sendiri hehe. Dibantu kakak saya, akhirnya keluarga pakai purnama catering.

DIY Tulisan di Dekorasi Karya Adek Sendiri Hehe


Baju dan Makeup

Baju ini cuma buat seru aja biar pakai baju matching gitu sama pacar pas lamaran. Akhirnya pesan kain di (ig) wellyboutique buat pacar kainnya buat atasan, kalau buat saya jadi rok. Untuk makeup saya pakai MUA (ig) hanastudioo yang hasilnya saya sukaa :)

Suka Banget Sama Hasil Makeup Ini


Susunan Acara

Inti dari semuanya ya acara sik, susunan acara saya dapat dari googling dengan sedikit modifikasi. Saya memilih acara yang tidak formal banget, jadi MC dan perwakilan keluarga pun menyesuaikan pada akhirnya acara berjalan santai dan cair. Sebelumnya sudah harus ditentukan siapa MC, perwakilan keluarga yang bicara dan pembaca doa. Baiknya sebelumnya di-briefing sedikit dan di-print susunan acara beserta nama keluarga besar keduanya agar meminimalisir kesalahan menyebut nama keluarga.


Alhamdulillah acara lamaran berjalan lancar walau merasa sangat sedikit sekali dokumentasi, karena memang kita nggak pakai dokumentasi yang mumpuni hehe. Susunan acara pun memang tak ada sesi dokumentasi sik hehe.

and finally, happy engagement for us..



Semoga tahap selanjutnya selalu dilancarkan juga.



Minggu, 03 Januari 2016

Cara Daftar Bebas Visa Jepang (Visa Waiver)

Pasti kalian sudah dengar kan ya kalau sekarang Jepang bebas visa. Tuh makin gampang kan mau traveling ke Jepang. Saya mau cerita bagaimana cara mengurus visa waiver untuk perjalanan saya ke Jepang kemarin. Pastikan paspor kalian adalah e-paspor ya, kalau bukan e-paspor maka harus apply visa seperti biasa. Cara buat e-paspor bisa baca di sini.

Kok bebas visa masih harus daftar lagi sik ? Ribet nggak ?

Nggak, nggak ribet sama sekali kok. Nggak seperti apply visa biasa yang harus menunjukkan rekening koran atau itinerary. Visa waiver ini hanya butuh e-paspor aktif yang masih berlaku dan form pendaftaran visa waiver. Form pendaftaran bisa didownload di sini.

form pendaftaran yang harus diisi


Ini langkah-langkah cara membuat visa waiver Jepang,
  • Datang ke Kedutaan Jepang jam 8.30-12.00 ini waktu pendaftarannya
  • Kedutaan Jepang letaknya sebelah Plaza Indonesia, biasanya kelihatan ada antrian di luarnya.
  • Masuk ke Kedutaan Jepang pertama adalah menyerahkan KTP atau ID ditukar dengan pass masuk, kemudian melewati scanning dan menuju tempat pengurusan visa.
  • Ruangan pengurusan visa ada mesin nomer antrian di depan sebelah kanan, tinggal pencet tombol maka akan keluar nomor antrian dan kita tunggu hingga nomer antrian kita tiba.
  • Perhatikan baik-baik nomer antrian tiap loket, jika sudah pada nomer antrian milik kita harus segera menuju loket agar nggak dilewati.
  • Saat di loket hanya menyerahkan e-paspor dan form pendaftaran visa waiver. Kemudian, kita akan dapat slip bukti pengambilan.
  • Proses pendaftaran dua hari kerja. Saya submit hari Kamis, hari Jumat sudah bisa diambil.
  • Besoknya pada hari Jumat waktu pengambilan e-paspor dan visa waiver pada jam 13.00-15.00
Nomer antrian pendaftaran

Yeay ! Visa Waiver jadi..

Pengalaman saya sendiri ketika di bagian Imigrasi bandara Haneda, Jepang. Saya hanya dicek paspor saja, nggak ditanya-tanya macam-macam. Padahal sudah was-was karena foto di paspor belum hijaban. Berbeda dengan teman saya yang juga satu perjalanan, dengan petugas imigrasi yang berbeda diminta menunjukkan itinerary dan bukti booking hotel. Dugaan kami karena teman saya ini gugup sik jadinya buat curiga petugas imigrasi hehe. 

Nah, buat jaga-jaga disiapkan saja itinerary dan bukti booking hotel siapa tahu ditanya petugas imigrasi.

Tuh kan urus visa waiver mudah banget, semudah jatuh cinta. Eaaakk hehe..



Salam Jalan-Jalan,
Tristy

Jumat, 09 Oktober 2015

Cerita Tentang Membaca dan Menulis

Waktu itu saya kelas enam sekolah dasar, sebuah sekolah negeri di kelurahan Kebon Kosong. Kelas saya bersebelahan dengan perpustakaan kecil yang sebenarnya bergabung dengan ruangan kepala sekolah. Perpustakaan kecil itu memiliki buku cerita rakyat berbagai daerah di Indonesia. Saat istirahat atau saat guru kelas kami tak ada biasanya saya meluncur ke perpustakaan.

Saya juga biasa meminjam untuk dibawa pulang ke rumah, beberapa ada yang belum saya kembalikan, saat menyadari hal itu saat saya sudah lulus dari sekolah itu. Perpustakaan kecil itu menyumbang banyak pada kebiasaan saya membaca. Saya jadi tahu cerita Sangkuriang, Malin Kundang dan Lutung Kasarung. Bahkan saya kecil yang tak suka makan durian, bisa tahu jika mabuk durian maka minumlah air yang ditaruh di kulit durian. Hal itu saya dapatkan dari buku cerita tentang petani durian di Jambi.

Ternyata saya kecil sudah suka membaca. Namun, saya kecil juga sudah dipaksa mencintai matematika. Bukan dipaksa sebenarnya, ayah saya lebih sering memberi saya banyak latihan soal matematika atau kalau dia menceritakan sesuatu pun bentuk soal cerita matematika untuk mengasah logika saya, bukan buku-buku cerita. Jika dianalogikan, pada matematika saya jatuh cinta karena terbiasa tapi pada membaca saya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kemudian..

Saat saya di bangku sekolah menengah, saya mengenal apa itu buku diary. Aktivitas membaca hanya saya dapat dari novel pinjaman. Jarang sekali saya membaca pada masa itu. Saya lalu mengenal menulis, lewat buku diary itu saya suka menulis. Menulis hal-hal aneh tentang rasa suka, sahabat atau kegiatan sehari-hari yang saya kerjakan.

Saya ini orang yang agak rumit, bahkan saya sendiri saja tidak paham diri saya. Kerumitan ini yang membuat saya tidak mudah menceritakan isi kepala dan hati kepada orang lain. Dalam keluarga dan pertemanan mungkin saya yang jarang bercerita hal pribadi.

Saya terus menulis diary bahkan sampai saya kuliah, aktivitas ini menyenangkan buat saya karena saya bisa mengeluarkan isi kepala dan hati bukan pada orang lain melainkan sebuah buku. Buku diary itu paling setia yang tak pernah membeberkan rahasia.

Pernah suatu hari kakak saya menelpon, saat itu saya sudah nun jauh merantau dari rumah. Kakak saya membereskan kamar saya lalu menemukan sebuah buku diary dan membacanya. Ya, dia membaca buku diary saya yang dengan cerobohnya lupa saya musnahkan dari rumah sebelum saya pergi. Kali ini buku diary tak lagi setia, dia menelenjangi semua rahasia.

Bukan meledek justru kakak saya heran, bukan dengan isi tulisannya tapi dengan bagaimana saya menulis. Saya bahkan sudah lupa buku diary mana yang dia temukan, apalagi tulisannya. Dia bilang, "teruslah menulis, saya suka tulisanmu". Sejak saat itu lebih semangat menulis.

Saya berhenti menulis buku diary, saya membuat blog saat saya tingkat akhir kuliah. Saya masih menulis seperti saya menulis diary, kadang saya publish untuk diposting tapi kadang hanya tersimpan di draft saja. Tulisan di blog ini seperti metamorfosa dari tahun ke tahun, dari kedewasaan saya, dari cara menulis. Kadang saya tersenyum geli melihat postingan saya di tahun-tahun lalu.

Menulis buat saya itu adalah mengobati, ada hal yang sulit saya bagi pada orang lain maka saya tulis lewat kata. Ketika saya sedih, bahagia dan hal-hal lain yang saya anggap menarik selalu saya ingin tulis. Bahkan, saya bisa tahu bahwa saya benar-benar mencintai laki-laki kalau saya mampu menuliskan sesuatu tentangnya.

Jika menulis itu mengobati maka membaca adalah obatnya. Dua hal yang tak terpisahkan, membaca dan menulis. Jika kamu suka menulis maka sudah pasti kamu harus suka membaca juga.

Jadi, ini tahun keempat usia blog ini. Entah kapan saya akan berhenti menulis di blog seperti saya berhenti menulis diary kemudian berganti media, atau bahkan saya berhenti menulis. Entah. 

Terima kasih kepada siapa saja yang menyempatkan membaca blog ini. Anggap ini adalah anniversary blog ini yang keempat hehe..

Panjang juga ya, postingannya :)


Salam,
Tristy

Senin, 21 September 2015

Selamat Pagi

Jika setiap pagi adalah mimpi, maka pagi ini bermimpi kamu ada di depan saya. Meminum kopi buatan saya sambil berbicara banyak. Berbicara remeh temeh sampai saya tergelak atau berbicara serius sampai dahi saya mengkerut. Memandang wajahmu, menatap matamu dalam dan memperhatikan perubahan mimikmu saat kamu bicara.

Ketahuilah, sejak bertemu kamu mimpi-mimpi saya menjadi sederhana tak muluk-muluk berisi ego dan ambisi. Saya hanya ingin terus menjadi lebih baik. Saya merasa tenang. Itu saja.

Semoga semesta mengijinkan kelak kita akan selalu bertemu di setiap pagi. Meminum kopi dan berbicara banyak hal tanpa jemu.


Selamat pagi, Kamu :')


Sudah bikin kopi pagi ini ?




Salam,
Pecinta Kopi Good Day Cappuccino 

Senin, 20 Juli 2015

Sebuah Cerita Dari Sahabat Lama

Siang itu saya bertemu sahabat lama saya di sebuah cafe di bilangan Jakarta Utara. Kami jarang bertemu sejak saya bekerja di luar kota. Praktis hanya bertemu jika saya sedang pulang ke Jakarta, lagi pula dengan kesibukan yang berbeda membuat kita sulit menyatukan jadwal. Saya pun jika pulang ke Jakarta sebisa mungkin menyempatkan waktu untuk bertemu dan berbincang hangat. Bagi saya berbincang dengan sahabat lama adalah oase di tengah gegap gempitanya hidup.

Perbincangan siang itu sahabat saya bercerita jika dia tidak jadi menikah dan putus dari pacarnya yang telah tujuh tahun bersama. Ya, tujuh tahun. Saya paham kondisi itu tapi memang persahabatan antara kami tak pernah se-menye-menye perempuan kebanyakan yang curhat diiringi tangisan. Dia bercerita tetap lantang tanpa ada nada sedih. Saya tak berkomentar apapun, saya paham dia hanya butuh didengar.

'Sebelumnya semua baik-baik saja, sampai dia mengakhiri semua tiba-tiba dan masih menjadi tanda tanya besar hingga sekarang', ujar sahabat saya sambil mengaduk dessert pesanannya.

Selang beberapa bulan patah hatinya, dia bertemu lelaki baik yang datang membuatnya jauh lebih baik. Dia terus bercerita tentang betapa baiknya lelaki itu. Saya bahagia mendengarnya apalagi lelaki baik ini berniat serius akan menikahi sahabat saya ini dalam waktu dekat. Sebagai sahabat saya pun menyelidik, bahagia saya ini harus saya konfirmasi padanya.

Apakah dia juga benar-benar bahagia juga ?

Lalu pelan-pelan saya bertanya, 
'Kamu bahagia kan sekarang, yang lalu sudah benar-benar selesai di hatimu ?'.

Seperkian detik sahabat saya terdiam sambil memandang lalu lalang kendaraan di luar cafe, hingga kemudian dia menjawab.

Ya, semua sudah selesai.

Saya tersenyum dengan jawaban itu. Buat saya di seperkian detik dia terdiam adalah jawaban sesungguhnya bahwa semua belum benar-benar selesai. Saya tahu dia sedang berkhianat pada hati kecilnya sendiri.

Di akhir perbincangan saya memberikan sedikit nasehat sebagai seorang sahabat yang ingin sahabatnya benar-benar bahagia bukan karena harus bahagia,

Kamu tidak harus memaksa bahagia untuk menyembuhkan luka, lukamu sembuh kemudian berbahagialah. Jangan terburu-buru memutuskan untuk menyembuhkan luka, adakalanya luka hanya butuh waktu.

---
Ini bukan pertama saya mendapat cerita seseorang yang akan menikah namun perkara lalu dalam hatinya belum selesai. Semua berpikir sama bahwa mungkin pernikahan dapat mengobati.

Saya bergidik ngeri.

Kelak nanti saya akan memastikan bahwa lelaki yang berniat menikahi saya adalah lelaki yang hatinya telah selesai segala perkara lalunya. Bukan seseorang yang menjadikan pernikahan media penyembuhan luka.

Semoga..


Salam,
Tristy

Minggu, 05 Juli 2015

Pulang

Mulai malam ini tinggal menghitung hari untuk pulang ke rumah :)

Insya Allah malam minggu besok sudah mamam masakan rumah dan melihat wajah-wajah orang kesayangan di rumah.

Seperti biasa menjelang cuti itu pekerjaan buanyak banget tapi saya happy dan semangat banget ngerjainnya karena setelah itu saya bisa mudik dengan bahagia. Sudah hampir tiga tahun merantau jauh dari rumah dan momen pulang selalu membahagiakan seperti ini.

Kadang dalam perjalanan entah untuk pulang ke rumah atau ketika balik ke rantau, diam-diam hati kecil bilang,

Sampai kapan ya harus begini ?

Kalau dulu saat belum merantau, bulan puasa gini saya malah lebih banyak buka puasa di luar. Bisa dihitung buka puasa di rumah. Hal yang sering dikomplain banget sama orang rumah.

Sekarang saat jauh gini baru kerasa deh, buka puasa sama orang rumah sesuatu yang "mahal". Sesuatu yang sangat diinginkan dan dirindukan.

Gitu ya, setelah mendewasa ternyata hal-hal yang kita inginkan adalah hal-hal sederhana yang sebenarnya pernah kita punya cuma kita abaikan :)

Soalnya katanya memang gitu, 

Sesuatu itu baru berasa berarti kalau jauh, hilang atau sudah nggak ada.

So, kalau kalian sekarang dekat dengan keluarga. Maksimalkan waktu sama mereka. Dengarkan cerita-cerita Ayah Ibu kalian. Cium kening mereka sesekali. Pijat-pijat kakinya yang telah menua sambil mendengarkan ceritanya.

Hal itu memang terdengar aneh tapi percayalah hal-hal itu yang ingin kalian lakukan setelah kalian mengerti,

"mahal"-nya pulang ke rumah..


Salam,
Tristy

Minggu, 28 Juni 2015

Sebuah Doa

Kita mungkin pernah bertemu seseorang yang kita pikir dialah orang yang tepat. Memercayainya penuh bahwa dialah satu-satunya. Menjaga dan menyimpan namanya dalam hati. Berharap di masa depan dialah yang berjalan di sisimu dan menggenggam tanganmu dalam hidup yang tak menentu.

Kemudian..

Kita berpisah entah dengan cara dia tak setia, dia meninggalkan atau justru kita yang memilih pergi. Dan kita kecewa. Kita benci dia.

Kita lupa bahwa ada hal-hal yang tak mampu kita kendalikan, yang tak mampu kita ubah. Dia bernama takdir. Lebih memercayai seseorang dibanding Penciptanya saya rasa itu kesalahan yang selalu kita lupa.

Saya percaya jika seseorang pergi itu karena pada jalan ceritaNya, itu karena waktu saya dan dia telah habis.Tak peduli sesedih apa ketika semuanya berakhir, saya yakin ada seseorang lain di sana yang Tuhan jaga baik-baik untuk bertemu saya kelak dan menjadikan satu-satunya satu sama lain.

Dan akan wajar jika kita pernah gagal maka akan ragu untuk memulai kembali.


Seperti nasihat kakak saya, 

Serahkan semuanya sama Allah. Sebagian kesuksesan itu adalah menyerahkan segalanya kepada Allah di awal perjalanan..

Jadi, saat kamu bertemu seseorang itu jangan memintanya untuk setia dan tetap bertahan hingga akhir. Mintalah pada Penciptanya untuk menjadikan dia yang terakhir.

di sepertiga malam
salam,
Tristy