Selasa, 22 Mei 2018

Cerita Kehamilan Pertama (Part 2)

Pemulihan di rumah, suami sudah selesai cuti, dan Dhira yang masih di NICU. 

Pasca masuk RS terakhir kali itu hati dan jiwa saya jauh lebih tenang. Penerimaan saya akan keadaan pun sudah baik. Rasa ingin sembuh saya tinggi. Akhirnya saya sembuh, Alhamdulillah. Hari kedua di rumah drain sudah bisa dilepas. Hari berikutnya belajar jalan dan aktivitas kecil.

Kembali mengusahakan ASI, kini saya lebih semangat makan banyak. Suami yang sudah kembali bekerja, praktis bolak balik ke NICU lebih sering jadinya saya. Dhira masih dalam kondisi yang naik turun. Kali ini saya jauh lebih kuat ketika memasuki lorong ruang NICU, walau kadang saya menyeka luapan basah di ujung mata dengan jilbab saya.

Dari sakit saya yang berturut-turut itu saya belajar sabar, saya belajar pasrah, saya belajar ikhlas, saya belajar berpikir positif dengan semua rencana Allah, saya belajar kuat. Begitu menghadapi kondisi Dhira selama sebulan terakhir, saya jauh lebih baik secara psikologis. Sabar, kepasrahan dan kekuatan itu mengiringi hari-hari saya di ruang NICU.

Doa-doa saya tak lagi meminta Dhira kuat agar segera pulang ke rumah. Doa saya pasrah pada semua rencanaNya yang terbaik buat Dhira. Hingga suatu waktu saya bisa kuat membisikkan kalimat ini ke telinga Dhira,

"Ibu dan Bapak ikhlas sayang, jika memang kita ditakdirkan belum bisa sama-sama asal kamu nggak sakit lagi..".

Akhirnya Dhira berpulang pada hari ke-56 saat usianya hampir dua bulan, saat kami sedang berproses merujuknya ke Jakarta, saat perasaan pasrah dan optimis datang bersamaan, dan kami harus menerima takdirNya. 

Doakan kami Nak, agar terus dapat memantaskan diri agar kelak kita bertemu di pintu surga nanti.

Kurun waktu dua bulan..

Cerita empat rumah sakit, tak terhitung tusukan infus di tangan, derit pintu ruang NICU dan nyeri ngilu kehilangan. Rasanya masih kayak mimpi tapi terjadi. Buat kembali ingat tiap detil peristiwa kemarin itu, rasanya hati masih nyeri. Hidup harus terus berjalan dan kami masih percaya akan rencanaNya yang indah.

What doesn't kill you makes you stronger






Cerita Kehamilan Pertama (Part 1)

Hingga kehamilan masuk bulan ketujuh, semua baik-baik saja. Setiap bulan kontrol dan janin sehat normal tak ada yang mengkhawatirkan. Kami baru akan bersiap menyambut anggota baru dengan rencana beli semua perlengkapannya.

Semua bermula pada suatu pagi saya sarapan alpukat dan susu UHT. Sejak hamil memang saya lebih suka buah dan sayuran. Saya sarapan bersama suami dengan menu yang sama persis, karena dalam mangkuk yang sama kami makan. Selang beberapa jam setelah sarapan saya muntah-muntah dan buang air terus menerus hingga lemas. Hingga berujung ke IGD Rumah Sakit Ibu dan Anak, di ruang IGD pun saya masih terus muntah.

Setelah masuk ruang perawatan pun saya masih muntah, namun frekuensinya berkurang. Selain muntah, rasa tak nyaman di perut pun luar biasa hingga saya tidak bisa tidur dan menangis sepanjang malam ke suami. Paginya saat dokter visit saya ceritakan keluhannya kemudian diberikan beberapa obat yang diminum dan via infus. Setelah itu saya merasa agak baik, tidur malam nyenyak walau masih kurang nyaman di bagian perut. Hari ketiga saya pulang ke rumah setelah dipastikan saya dan janin baik-baik saja.

Saran dokter saya harus bedrest selama 7 hari. Pulang ke rumah saya diresepkan obat yang aman untuk ibu hamil. Namun, saya merasa perut saya masih tidak enak. Rasanya seperti sakit maag. Sakit di bagian perut kanan bawah, sampai ketika tidur hanya bisa telentang karena untuk gerak ke kanan dan kiri nyeri. Saya masih berpikir ini maag, sampai suatu malam saya sudah tidak tahan lagi dengan sakitnya di bagian kanan bawah perut nyeri sampai ke pinggang belakang.

Kedua kalinya saya dilarikan ke IGD Rumah Sakit (RS) yang berbeda, dengan pertimbangan itu tengah malam maka pilih RS yang dekat dan Dokter Kandungan saya juga praktek di sana. Di ruang IGD, dokter IGD langsung cek keadaan saya dan menanyakan siapa dokter kandungan saya.  

"Bu, saya kontak Dokter Niko (Dokter Kandungan Saya) dulu ya, karena kalau dari keadaan seperti ini bisa jadi bayi ibu harus segera dilahirkan.."

DEG..

Saat itu kehamilan saya 30 minggu, saya mencoba berpikir positif mudah-mudahan apa yang dokter IGD katakan tidak benar. Akhirnya saya dibawa ke bagian obstetri ginekologi dan masuk ruang perawatan. Paginya saya bertemu dokter kandungan saya dan dicek kondisi janin. Dokter mengatakan semuanya normal dan janin saya baik-baik saja.

Alhamdulillah..

Diagnosa sakit saya masih maag, sakitnya tak kunjung reda apalagi saat malam hari. Saya sampai kehilangan nafsu makan karena sakit ini namun harus tetap makan untuk asupan ke janin. Pada hari kedua saya dirawat, malamnya saya luar biasa merasakan nyeri. Saya menangis ke suami sambil terus menerus istighfar. Suami panggil perawat jaga sampai tiga kali dalam semalam. Namun, perawat tidak bisa apa-apa karena saya sudah diberi obat pereda nyeri sesuai dosis, tidak boleh lebih karena saya hamil.

Paginya ketemu dokter kandungan lagi dan dokter merasa aneh kenapa nyeri saya tak kunjung reda. Setelah diperiksa dan USG, dokter dengan wajah yang agak tegang mandang ke monitor sambil gerakin alat USG di perut saya,

"Ini air ketubannya sudah sedikit ini, bayi ibu harus segera lahir ini.."

What?

Balik ke ruangan saya dan suami menangis seperti nggak percaya bayi kami harus lahir di usia kandungan 30 minggu.

Singkatnya saya dirujuk ke RS lain yang ada ruang NICU karena kondisi air ketuban yang sudah sedikit pada kehamilan 30 minggu. Artinya bayi saya nanti lahir prematur dan harus segera masuk ruang NICU. Sampai RS Rujukan, saya diperiksa dan masuk ruang observasi dengan keadaan masih merasa nyeri yang amat sangat.

Tak lama, dokter memanggil suami saya untuk menjelaskan kondisi saya dan opsi yang diberikan ke suami. Suami saya bilang pada dokter,

"Lakukan yang terbaik dok, buat istri dan anak saya.."

Maka pilihan itu yaitu saya harus segera melahirkan dengan operasi, harus sesegera mungkin jadilah besok pagi saya harus dioperasi. Sore itu saya disuntik, diberi cairan obat dari infus, dan tranfusi darah. Saya bahkan tidak sempat kritis lagi obat apa itu ke perawat akibat nyeri yang tak tertahankan. Malamnya saya kaget karena mengeluarkan flek darah dan rasa nyeri luar biasa, setelah dicek ternyata saya sudah pembukaan 1.

Saat itu saya banyak berdoa buat anak saya, semoga anak saya baik-baik saja. Saya sudah minta maaf ke suami, saya pada tahap sudah pasrah dengan kondisi saya saat itu. Sepanjang hidup saya, belum pernah saya sakit hingga dirawat di Rumah Sakit, belum pernah saya selemah ini bahkan ke toilet saya harus dengan kursi roda dan dipapah suami. Semua terjadi tiba-tiba saja, rentetan dari saya masuk RS pertama hingga kenyataan saya harus melahirkan prematur. Rasanya saya masih nggak percaya dan menunggu ending dari semua ini.

Paginya saya masuk ruang operasi, sepanjang jalan migrasi dari ruang observasi ke ruang operasi suami terus menemani. Sampai di pintu ruang operasi saya pamit minta doa agar operasi lancar. Wajah suami saya sendu, saya tahu tak mudah jadi dia. Pasca operasi dia cerita perasaannya waktu saya operasi,

"Pas kamu masuk ruang operasi, aku sedih banget. Aku nggak bisa membayangkan kalau aku harus kehilangan kamu dan Dhira..".

Operasi berjalan lancar, saya dan bayi selamat tapi Dhira harus masuk ruang NICU. Pada hari ketiga saya baru bisa lihat Dhira. Pertama kali saya lihat Dhira di inkubator saya menangis, nggak tega lihat anak sekecil itu dengan berbagai alat dipasang di tubuhnya. Saya keluar ruang NICU lemas, nyeri luka operasi tak seberapa dari nyeri patah hati ini.

Pemulihan di rumah sebisa mungkin saya jenguk Dhira setiap hari, walau lebih banyak suami yang bolak balik ke NICU karena saya masih pemulihan pasca operasi. Dhira belum bisa minum ASI, jadi saya kalau jenguk hanya lihat Dhira di inkubator sambil elus pipinya dengan hati-hati. Seminggu saya di rumah ASI masih belum keluar dengan lancar juga, jaga-jaga saya cari donor ASI takut ketika Dhira siap minum ASI namun saya masih sedikit ASI-nya.

Masih dengan kondisi saya pemulihan, beberapa kali Dhira kritis. Saya mencoba untuk tidak stress agar ASI saya lancar namun sia-sia justru saya kehilangan nafsu makan. Saya sering menangis. Tidur saya kacau. Saya sedih terus menerus. Sampai ketika kakak saya menasehati saya untuk sabar dan jangan stress agar ASI saya lancar semua demi anak, saya marah. Psikologis saya kacau saat itu.

Saya marah karena saya dianggap tidak sayang anak dengan stress dan sedih terus-terusan. Hey! kamu belum pernah merasakan lihat anak di inkubator, belum pernah merasakan drama panjang keluar masuk Rumah Sakit, belum pernah merasakan rasanya tergolek lemah di tempat tidur tak berdaya!

Saat itu saya benci dinasehati sabar, saya benci dinasehati harus pasrah, saya benci!

Dua minggu pasca operasi saya kembali masuk IGD di RS yang berbeda dari tiga sebelumnya. Jadi, ini RS keempat yang saya datangi dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Luka jahitan saya mengalami infeksi, padahal seminggu sebelumnya sudah kering dan baik-baik saja. Dari luka jahitan saya mengeluarkan banyak cairan terus-terusan. Diagnosanya saya kurang asupan gizi dan stress sehingga luka bagian dalam terinfeksi. Saya kembali dioperasi.

Saya dirawat selama dua minggu di RS. Pasca operasi kedua ini dokter belum memperbolehkan pulang ke rumah, agar tetap mendapat perawatan di RS. Menjalani hari-hari sebagai pesakitan yang ruang geraknya terbatas karena infus di tangan dan luka di bagian perut. Merasa merepotkan banyak orang, merasa ingin melakukan banyak hal untuk bayi saya tapi tidak bisa, dan perasaan lainnya. Beruntung, saya dan Dhira berada satu RS sehingga saya bisa datang ke ruang NICU saat jam besuk.

Setelah meyakinkan dokter bahwa saya sudah baik-baik saja, akhirnya dokter mengijinkan pulang dengan catatan tetap berobat jalan. Saya pulang ke rumah masih memakai drain pada luka saya. Saya pulang ke rumah ditemani orang tua yang sudah datang dari Jakarta, semakin optimis untuk segera sehat.


Selasa, 23 Januari 2018

One Day Trip Labuan Bajo


Labuan Bajo..

Destinasi wisata di NTT yang sangat hits karena Pulau Komodo dan Pulau Padarnya. Sebenarnya tidak hanya dua pulau itu saja, gugusan pulau lainnya itu cantik banget lho di Labuan Bajo. Tentu sudah lama jadi wishlist trip harus ke sana, apalagi domisili sudah di NTT tepatnya di Kupang (sebelumnya di Kefa). Pokoknya sebelum pindah dari NTT harus ke Labuan Bajo, kan ke Kelimutu sudah :)
Sering banget ditanya teman atau keluarga yang tahu saya kerja di NTT padahal sudah bilang saya di Kupang atau Kefa, 

"Labuan Bajo dekat nggak dari tempat saya?",

Rasanya mau jawab sambil KAYANG terus bilang,

"Naik pesawat lagi dari tempat Aing, Bro!"



Beruntungnya sebulan pindah Kupang dapat tugas dari kantor ke Manggarai Barat, yasudah tanpa pikir panjang langsung perpanjang hari di Labuan Bajo untuk menuju Pulau Padar dan lainnya. Karena tujuan utama memang tugas negara, jadi memang selama empat hari di Labuan Bajo hanya kerja (pencitraan :p). Baru di hari kelima trip ke berbagai pulau.

Suami yang batal menyusul karena masih ada kerjaan di Rote dan teman kantor yang domisili Labuan Bajo sudah terlalu sering ngetrip ke pulau jadinya males :))) Tapi hal ini tak memadamkan bara keinginan ngetrip ke berbagai pulau di Labuan Bajo walau sendirian. Maka mulailah mencari One Day Trip Pulau di Labuan Bajo. 

Akhirnya kembali solo traveler ulalalaaa~

Touring Pulau di Labuan Bajo bisa dinikmati dalam tiga cara:


1.  Live on Board (LOB), merupakan sistem paketan dimana kalian bisa menginap di kapal. Jenis paketan pun beda-beda ada 2D1N (2 hari, 1 malam) atau 4D3N menurut masing-masing selera dan harga bisa digoogling saja untuk paketannya. Kalau dari Bonito Komodo Tour menawarkan 2D1N untuk honeymoon (2 orang) seharga 2 juta. Hanya saja jika ingin LOB ini pastikan saja kalian sanggup berada di atas kapal dalam kurun waktu lama ya.

2.   Sewa Kapal Harian, jika kalian trip bersama teman-teman yang jumlahnya lebih dari dua orang saran saya adalah sewa kapal harian karena bisa sharing cost. Selain itu kelebihan sewa kapal adalah bebas menentukan tujuan dan berapa lama berada salah satu objek wisata. Range harga sewa kapal 800-2 juta bergantung dari penyewa dan harga bahan bakar kapal.

3.   One Day Trip, paketan one day trip seperti yang saya pilih karena saya trip sendirian. Jadi, saya bergabung dengan beberapa orang lain juga yang trip sendiri atau berdua di atas kapal. Kebetulan kemarin satu kapal bersama bule semua :)) Kelebihan dari paketan One Day Trip ini murah jika kalian ngetrip sendirian. Namun, kekurangannya adalah kalian tidak bebas menentukan berapa lama di Pulau tertentu karena harus mengejar pulau berikutnya agar tidak terlalu malam kembali ke pelabuhan.

Pencarian di media sosial menemukan paket One Day Trip dari Bonito Komodo Tour seharga 525ribu/pax dengan tujuan Pulau Padar, Pulau Komodo, Pink Beach dan Manta Point. Harga tersebut sudah dengan makan siang, kopi atau teh panas di atas kapal, snack pisang, alat snorkeling dan fasilitas toilet di atas kapal.

Silahkan kunjungi IG-nya: bonito_komodotour 

Masih pengen balik lagi ke sini sama suami karena pas trekking di Pulau Padar belum sampai paling puncak. Karena sendirian takut puyeng di atas nggak ada yang mikul sampai bawah :)) Ternyata eh ternyata pas trekking di Padar itu saya sudah hamil sekitar 2 mingguan hehe pantes agak puyeng banget. Selain itu juga belum sempet snorkeling di spot-spot snorkeling-nya.




Trekking Pulau Padar, Puncaknya Sebelah Kanan Atas


View Dari Puncak yang Masih Belum Paling Puncak :))

Bukit Warna Cokelat Khas Musim Panas. Cantik ya..
Pemandangan Saat Turun Bukit, Kapal-Kapal Wisata yang Sedang Menunggu


Pantainya Masih Sepi, Bersih, Cantik.. Damai Banget Tidur-Tiduran Sambil Lihat Ombak

Masih Bersih dan yang Datang Tetap Jaga Kebersihan ya..
 

Sampai di Pulau Komodo

Dua Bapak di Depan ini Semangat Sekali Untuk Trekking di Pulau Komodo. Bapak yang Sebelah Kiri Sudah Sepuh, yang Kanan Sudah Pakai Tongkat Untuk Jalan. Mereka Memotivasi Saya Untuk Terus Jalan-Jalan Sampai Kapanpun.

Legenda Putri Komodo

Minggu, 14 Mei 2017

One Day Trip Bandung

Jika punya waktu satu atau dua hari di Bandung mau kemana yang enak ya?

Jadi ceritanya ada pelatihan di Bandung dimana sisa satu hari di awal dan akhir untuk bisa jalan-jalan. Kebetulan yang ikut pelatihan adalah sahabat-sahabat kuliah yang biasa ngetrip, yowis kita bikin rencana explore Bandung. Bikin rencana ini sebenarnya nggak terlalu susah karena notabene saya sudah sering bolak balik Bandung, apalagi di jaman Gmaps dan Googling ya kan. 

Catatannya adalah Bandung itu jalanannya banyak yang satu arah saja dan macet sekali. Jadi, destinasi kita buat satu jalur saja. Pilihan destinasi mau wisata lokasi atau wisata kuliner banyak sekali. Pilihan kita yaitu jalur Bandung Utara, menuju ke arah Maribaya dan Cafe Lawangwangi.

Penginapan

Kami menginap satu malam di Cottonwood Bed and Breakfast House, penginapan dengan konsep rumah shabbychic yang sangat instagramble sekali. Sebelumnya pilihan kami ada pada penginapan Hummingbird dan Stevie G Hotel. Cottonwood kami pilih selain dekorasi dan konsep penginapan yang lucu, juga karena lokasi yang strategis yaitu daerah Pasteur. Harganya juga murah, kami pesan dua kamar dengan range harga 260-290 ribu per kamar. Teman saya pesan di traveloka Malaysia jadi dapat diskon haha tapi publish rate harganya sekitar 350-700 ribu.

Welcome to Cottonwood Bed and Breakfast

Bersama Ibu Pejabat dan MUA Papan Atas :D 

Plang di Depan

Tangga Menuju Lantai 2 (Penginapan)

Type Kamar Chamomile

Type Kamar Oak Tree

Tangga Menuju Resepsionis
Depan Pintu Utama, Imutnyaaa..


Ruang Tunggu Depan Resepsionis. Love :)

Dinding di Lorong Lantai 2

Depan Cafe Lantai 1

Cafe Cottonwood Lantai 1 dan Untuk Breakfast Peginapan Free

Padahal di Cangkir Teh Bukan Kopi :)


Transportasi

Sudah menjamur transportasi online seperti Gojek/ Grab bisa jadi plihan kalau destinasi kamu masih dekat dalam kota saja. Sayangnya kalau kamu di lokasi macet, abang Gojek/ Grab cenderung tidak mau ambil :( Nah, saran saya jika destinasi kamu ke luar kota dan kamu banyak orang maka lebih baik rental mobil saja.

Kebetulan kemarin kami ada teman yang bawa kendaraan, jadi modal kami Gmaps saja :) 

Lodge Maribaya

Jalan menuju Maribaya ini masih jalan yang sempit untuk dua arah dan banyak yang rusak. Maribaya ini cocok untuk wisata family, selain pemandangan yang bagus juga ada beberapa wahana dengan jasa fotografi yang bisa dibeli softcopy-nya via share it. Beberapa spot sangat fotoable sekali, namun pas jalan pulang harus naik nanjak yang lumayan bikin ngos-ngosan :) Untuk biaya masuk 15ribu per orang, tiket setiap wahana 20ribu per orang dan harga foto 10ribu per foto.



8 Years Friendship and Still Counting 



Wahana Zip Bike

Wahana Zip Bike

Wahana Sky Wing Picture From Google

Wahana Sky Tree Foto From Google

Cafe Lawangwangi

Cafe dan rumah makan dengan konsep yang unik dan menarik sangat banyak di Bandung. Salah satunya Cafe Lawangwangi menggabungkan Galery Art di lantai satu dan cafe di lantai dua dengan view pemandangan. Lokasinya searah dengan Maribaya, jadi sekalian jalan pulang kami mampir ke Lawangwangi ini. Jika dari kotanya juga tidak terlalu jauh kok lokasinya. Pilihan makanan di sini kebanyakan makanan western.


Hati-Hati Kelewat Karena Plang Tulisan Cafe Kecil

Tampak Depan Gedung Cafe

Gallery Art di Lantai 1





Cafe di Lantai 2 Bagian Outdor










Bandung Makuta

Hits para artis membuat oleh-oleh khas daerah seperti Bandung Makuta oleh Laudya C. Bella bikin penasaran rasanya seperti apa. Apalagi untuk belinya saja harus antri, denger-denger nomer antri sampai 700an ya ampun. Kami yang tak punya waktu cari akal agar tetap bisa cicipi Bandung Makuta tanpa harus antri :) Ketemulah Jasa Titip beli Bandung Makuta, dengan harga 80ribu per kotak. Mahal sik tapi dibanding harus ngantri ya kan hehe.

Setelah kita cicipi Makuta Cheese kesimpulannya adalah rasanya seperti Cheese Cake Breadtalk yang dibalut pastry, biasa saja. Saya sudah coba juga Makuta Blueberry, menurut saya ini lebih enak dibanding yang Cheese.



Jalan Asia Afrika

Malam terakhir di Bandung kita iseng mau kemana ya, rencana menuju alun-alun yang lewat Asia Afrika kok rame. Akhirnya yaudah muter cari parkiran dan jalan kaki serta jajan makanan di pinggir jalan di sekitar sana. Makanannya macem-macem rasanya mau dibeli semuanya :)

Semacam Pasar Malam :)



Susah Banget Ambil Foto Tanpa Orang Lewat Karena Ramai Banget


Waktu Terbaik Buat Foto Sore Hari. Foto Diambil Tahun 2014