Senin, 20 Juli 2015

Sebuah Cerita Dari Sahabat Lama

Siang itu saya bertemu sahabat lama saya di sebuah cafe di bilangan Jakarta Utara. Kami jarang bertemu sejak saya bekerja di luar kota. Praktis hanya bertemu jika saya sedang pulang ke Jakarta, lagi pula dengan kesibukan yang berbeda membuat kita sulit menyatukan jadwal. Saya pun jika pulang ke Jakarta sebisa mungkin menyempatkan waktu untuk bertemu dan berbincang hangat. Bagi saya berbincang dengan sahabat lama adalah oase di tengah gegap gempitanya hidup.

Perbincangan siang itu sahabat saya bercerita jika dia tidak jadi menikah dan putus dari pacarnya yang telah tujuh tahun bersama. Ya, tujuh tahun. Saya paham kondisi itu tapi memang persahabatan antara kami tak pernah se-menye-menye perempuan kebanyakan yang curhat diiringi tangisan. Dia bercerita tetap lantang tanpa ada nada sedih. Saya tak berkomentar apapun, saya paham dia hanya butuh didengar.

'Sebelumnya semua baik-baik saja, sampai dia mengakhiri semua tiba-tiba dan masih menjadi tanda tanya besar hingga sekarang', ujar sahabat saya sambil mengaduk dessert pesanannya.

Selang beberapa bulan patah hatinya, dia bertemu lelaki baik yang datang membuatnya jauh lebih baik. Dia terus bercerita tentang betapa baiknya lelaki itu. Saya bahagia mendengarnya apalagi lelaki baik ini berniat serius akan menikahi sahabat saya ini dalam waktu dekat. Sebagai sahabat saya pun menyelidik, bahagia saya ini harus saya konfirmasi padanya.

Apakah dia juga benar-benar bahagia juga ?

Lalu pelan-pelan saya bertanya, 
'Kamu bahagia kan sekarang, yang lalu sudah benar-benar selesai di hatimu ?'.

Seperkian detik sahabat saya terdiam sambil memandang lalu lalang kendaraan di luar cafe, hingga kemudian dia menjawab.

Ya, semua sudah selesai.

Saya tersenyum dengan jawaban itu. Buat saya di seperkian detik dia terdiam adalah jawaban sesungguhnya bahwa semua belum benar-benar selesai. Saya tahu dia sedang berkhianat pada hati kecilnya sendiri.

Di akhir perbincangan saya memberikan sedikit nasehat sebagai seorang sahabat yang ingin sahabatnya benar-benar bahagia bukan karena harus bahagia,

Kamu tidak harus memaksa bahagia untuk menyembuhkan luka, lukamu sembuh kemudian berbahagialah. Jangan terburu-buru memutuskan untuk menyembuhkan luka, adakalanya luka hanya butuh waktu.

---
Ini bukan pertama saya mendapat cerita seseorang yang akan menikah namun perkara lalu dalam hatinya belum selesai. Semua berpikir sama bahwa mungkin pernikahan dapat mengobati.

Saya bergidik ngeri.

Kelak nanti saya akan memastikan bahwa lelaki yang berniat menikahi saya adalah lelaki yang hatinya telah selesai segala perkara lalunya. Bukan seseorang yang menjadikan pernikahan media penyembuhan luka.

Semoga..


Salam,
Tristy

Sabtu, 04 Juli 2015

Pulang

Mulai malam ini tinggal menghitung hari untuk pulang ke rumah :)

Insya Allah malam minggu besok sudah mamam masakan rumah dan melihat wajah-wajah orang kesayangan di rumah.

Seperti biasa menjelang cuti itu pekerjaan buanyak banget tapi saya happy dan semangat banget ngerjainnya karena setelah itu saya bisa mudik dengan bahagia. Sudah hampir tiga tahun merantau jauh dari rumah dan momen pulang selalu membahagiakan seperti ini.

Kadang dalam perjalanan entah untuk pulang ke rumah atau ketika balik ke rantau, diam-diam hati kecil bilang,

Sampai kapan ya harus begini ?

Kalau dulu saat belum merantau, bulan puasa gini saya malah lebih banyak buka puasa di luar. Bisa dihitung buka puasa di rumah. Hal yang sering dikomplain banget sama orang rumah.

Sekarang saat jauh gini baru kerasa deh, buka puasa sama orang rumah sesuatu yang "mahal". Sesuatu yang sangat diinginkan dan dirindukan.

Gitu ya, setelah mendewasa ternyata hal-hal yang kita inginkan adalah hal-hal sederhana yang sebenarnya pernah kita punya cuma kita abaikan :)

Soalnya katanya memang gitu, 

Sesuatu itu baru berasa berarti kalau jauh, hilang atau sudah nggak ada.

So, kalau kalian sekarang dekat dengan keluarga. Maksimalkan waktu sama mereka. Dengarkan cerita-cerita Ayah Ibu kalian. Cium kening mereka sesekali. Pijat-pijat kakinya yang telah menua sambil mendengarkan ceritanya.

Hal itu memang terdengar aneh tapi percayalah hal-hal itu yang ingin kalian lakukan setelah kalian mengerti,

"mahal"-nya pulang ke rumah..


Salam,
Tristy

Sabtu, 27 Juni 2015

Sebuah Doa

Kita mungkin pernah bertemu seseorang yang kita pikir dialah orang yang tepat. Memercayainya penuh bahwa dialah satu-satunya. Menjaga dan menyimpan namanya dalam hati. Berharap di masa depan dialah yang berjalan di sisimu dan menggenggam tanganmu dalam hidup yang tak menentu.

Kemudian..

Kita berpisah entah dengan cara dia tak setia, dia meninggalkan atau justru kita yang memilih pergi. Dan kita kecewa. Kita benci dia.

Kita lupa bahwa ada hal-hal yang tak mampu kita kendalikan, yang tak mampu kita ubah. Dia bernama takdir. Lebih memercayai seseorang dibanding Penciptanya saya rasa itu kesalahan yang selalu kita lupa.

Saya percaya jika seseorang pergi itu karena pada jalan ceritaNya, itu karena waktu saya dan dia telah habis.Tak peduli sesedih apa ketika semuanya berakhir, saya yakin ada seseorang lain di sana yang Tuhan jaga baik-baik untuk bertemu saya kelak dan menjadikan satu-satunya satu sama lain.

Dan akan wajar jika kita pernah gagal maka akan ragu untuk memulai kembali.


Seperti nasihat kakak saya, 

Serahkan semuanya sama Allah. Sebagian kesuksesan itu adalah menyerahkan segalanya kepada Allah di awal perjalanan..

Jadi, saat kamu bertemu seseorang itu jangan memintanya untuk setia dan tetap bertahan hingga akhir. Mintalah pada Penciptanya untuk menjadikan dia yang terakhir.

di sepertiga malam
salam,
Tristy

Rabu, 18 Maret 2015

Beda Masa, Beda Pemahaman

Malam-malam saya beresin kost, siapin bahan masakan buat sarapan besok dan bersih-bersih kamar. Malam ini udah jam 21.00 WITA, orang-orang mah lagi tiduran sambil nonton TV eh ini saya malah beresin kamar. Akibat sore tadi pulang kantor ketiduran, jadilah sampai malam begini belum selesai urusan. Padahal sendirian juga di kost, kalau mau diabaikan, udahlah besok aja dikerjainya.

Tapi, nggak bisa euy ! Kepikiran kalau ruangan belum bersih, rapih dan besok belum siap masak itu nggak enak. Pokoknya harusnya dikerjain sekarang, walau udah malam sekalipun.

Kejadian itu buat saya keingetan sama ibu saya, beliau itu ibu rumah tangga sejati yang meninggalkan pekerjaannya sejak menikah. Ibu saya ini hobi sekali beresin dan bersih-bersih rumah. Beliau nggak suka rumah berantakan, kotor dan barang diletakan di tempat yang tak seharusnya. Interior rumah kami ini tak pernah sama setiap bulan, ibu selalu merombak tatanan barang di rumah. Bulan ini rak TV menghadap utara, mungkin bulan depan sudah menghadap selatan.

Saya sebagai anaknya dulu kadang suka stress, ya maklum dulu kan masih abege gitu dan dasarnya anak males. Punya ibu yang nggak suka rumah berantakan dan kotor, praktis saya sering dimarahi gara-gara saya suka asal-asalan gitu. Paling stress kalau hari libur, mood ibu "bongkar" tatanan rumah muncul, praktis kami anak-anaknya kudu bantuin sampai selesai dan kegiatan "bongkar" itu bikin capek sodara-sodara. Hari libur buat nonton kartun dan leyeh-leyeh sirna sudah T_T

Pernah suatu malam, ibu saya beres-beres dapur dan menyiapkan bahan masak buat besok. Saya bilang sama ibu saya,

Bu, kan bisa dikerjain besok aja. Udah malam juga.

Nggak bisa dek, kepikiran kalau belum dikerjain sekarang.

Dalam hati saya, ya ampun ibu lebay sekali ihh *sambil bantuin*

Pernah juga waktu ibu beresin rumah dan isi lemari, saya bilang,

Bu, nanti aja diberesinnya sekalian kan nanti berantakan lagi. Kan capek beresin ulang-ulang.

Ibu nggak betah lihatnya dek.

Dalam hati lagi, duh ibu saya ini deh.

=======

12 tahun kemudian dan ribuan kilometer jarak dari rumah, saya di kamar kost sedang beres-beres kamar dan menyiapkan bahan masakan buat besok pagi pukul 21.00 WITA. Udah malam,

kenapa nggak besok aja ?

Nggak bisa, nanti kepikiran kalau belum dikerjain.

Like mother, like daughter hehe

Sekarang saya bisa merasakan perasaan ibu saya, sebagai penanggungjawab rumah dan keperluan kami sehari-hari segala sesuatu harus berjalan baik, tidak boleh ada yang ditunda maupun dilewatkan. Kalau malam ibu belum siapkan bahan masakan, maka bisa jadi besok kami telat sarapan. Mungkin itulah yang buat ibu kepikiran kalau tidak dikerjakan malam itu juga :)

Setelah saya merantau jauh dari rumah dan tinggal sendiri, saya sebagai penanggungjawab rumah mini alias kamar kost, saya ini mirip sekali dengan ibu. Saya nggak betah kalau kamar berantakan dan kotor. Saya akan kepikiran kalau ada pekerjaan tidak dilakukan sekarang juga, seperti malam ini.

Saya berterima kasih dengan ibu menjadikan saya seperti ini. Love you, bu !

========

Ada hal yang bisa saya pahami di sini, bahwa beda masa itu beda pemahaman. Saya kecil mungkin tidak paham bagaimana perasaan dan ruang berpikir ibu saya, hingga sering komplain ke beliau. Hingga saya berada pada masa yang sama sebagai penanggungjawab rumah dan diri saya sendiri, baru saya menyadari, lebih dari sekedar paham.

Kepada adik-adik saya, kadang suka gemes karena mereka malas belajar. Dengan memarahi mereka, tak akan membuat mereka sadar bahwa belajar itu jauh menyenangkan dibanding stress beban pekerjaan karena mereka belum pada masanya bekerja seperti saya.

Mungkin di pekerjaan juga begitu, kadang kita sebal dengan atasan atau senior yang umurnya jauh di atas kita. Kita sebal dengan kebijakan, keputusan dan sikapnya atas suatu hal. Ingat, mungkin kita belum pada masa sebagai pimpinan dengan banyak tekanan atau masa umur lebih tua dengan banyak pengalaman.

Kalau kata Dee, Jembatan masa itu bernama kerendahan hati. 

Masa itu seperti pohon, saat kita menjadi akar tidak bisa merasakan bagaimana dahan diterpa angin dan saat menjadi dahan kita lupa rasanya menjadi akar.

Salam,
Tristy..

Kamis, 15 Januari 2015

Rafting Cisadane Bogor

Ini trip pertama di tahun 2015 pada tanggal 1 Januari 2015. Trip kali ini nggak jauh-jauh dari Jakarta karena memang punya waktu cuma sehari pas tanggal merah tahun baru. Pergi bareng tim ngetrip tahun lalu ke Bali (Trip Bali malah belum bikin postingannya hehe) tapi minus dua orang, jadi total empat orang kita menuju Bogor.


Sebelum mulai rafting

Tujuan trip kita kali ini adalah mencoba rafting di sungai Cisadane Bogor, seperti biasa kita ala backpacker menuju lokasi. Naik kereta dari Jakarta menuju Bogor dan sebelumnya belum tahu naik angkot apa pokoknya Let's Get Lost Together lah hehee.

Super Backpacker Sampai Ojek Satu Motor Tiga Orang hehe




Dari rangkaian rafting ini ada satu kejadian seru. Tiba-tiba di tengah perjalanan rafting kita berhenti di sebuah jembatan. Kita bingung mau ada apa ini kok mendayung merapat ke pinggir dan disuruh naik ke jembatan. Ternyata kita disuruh lompat dari jembatan ke bawah yang merupakan sungai -_-

Jembatan itu cukup tinggi buat saya, apalagi mesti lompat tanpa pengaman apapun ya langsung ciut lah nyali. Pas naik ke atas jembatan dan lihat ke bawah kemudian balik lagi mau turun jembatan memutuskan tidak akan mencoba. Gilak Tinggi Bok ! Ngeri !

Setelah satu pendamping rafting kita melompat dan kelihatannya seru, kok saya jadi penasaran dan ada bisikan yang bilang,

Jangan cupulah, ayo coba hal baru. Kapan lagi ?

Kemudian naik lagi ke jembatan dan ancang-ancang buat lompat-ragu-takut-penasaran begitu terus tapi bikin nggak jadi-jadi buat lompat. Akhirnya memutuskan dengan bulat, mata memandang ke depan dan melangkah pelan kemudian saya teriak,

BISMILLAH..

dan saya lompat, wow sangat emejing sekali sensasinya bisa mengalahkan ketakutan diri sendiri. Ini juga merupakan pencapaian pertama saya dalam hal lompat dari ketinggian.

LOMPAAAT !!

Mungkin dalam kehidupan ada banyak hal baru yang terlalu lama kita putuskan karena takut atau ragu yang akhirnya tidak pernah kita mencobanya. Just do it !

Akhir rafting kita berenang semacam body rafting jadi terbawa arus sungai sampai kepentok-pentok batu sungai. Seru banget pas terbawa arus bisa teriak-teriak dan ketawa sampai nggak terasa kalau kepentok batu terbawa arus bikin lebam dan nyeri.

Awal 2015 yang baik untuk mencoba hal baru. Semoga dikasih kesempatan buat trip ke tempat baru dan mencoba hal baru.

Selamat Tahun Baru 2015 Semoga Menjadi Lebih Baik 







Senin, 12 Januari 2015

Mengurus e-Paspor Dengan Daftar Online

Mau sharing bikin e-paspor yang happening saat ini. Kebetulan saya memang belum punya paspor, jadi bikin e-paspor ini pengajuan buat baru. Saya memilih di kantor imigrasi kelas I Jakarta Pusat karena lokasi yang dekat sama rumah. Memilih di Kanim mana untuk membuat paspor tidak harus sesuai domisili KTP, di mana saja bisa. Saya KTP Jakarta Pusat tapi domisili dan bekerja di NTT.

Kantor Imigrasi Jakarta Pusat adalah salah satu kanim yang melayani e-paspor, tidak semua kanim ada e-paspor bisa dicek di sini. Oleh karena itu kanim ini sangat ramai setiap harinya, untuk membuat manual dibatasi 100 orang per hari dan tak terbatas untuk pendaftaran online. 

Sepertinya masyarakat belum banyak tahu tentang pendaftaran online karena antrian manual sangat banyak sampai ke belakang gedung, sementara untuk antrian online bisa terhitung. Oleh karena itu lebih baik daftar online. Daftar online sekarang pun tidak perlu unduh dokumen lagi, cukup isi formulir saja.

Semua dokumen dicopy kertas a4 dan jangan dipotong untuk copy-an KTP, jaga-jaga copy sebanyak 2 (dua) rangkap. Bawa dokumen asli ketika datang ke kantor imigrasi. Kelengkapan dokumen dengan ijazah, bawalah semua ijazah sebagai bahan verifikasi pihak imigrasi. Saya harus pulang lagi mengambil ijazah SD/SMP karena hanya membawa ijazah SMA.

Alasan pihak imigrasi, ijazah kurang sahih karena seharusnya pakai akta kelahiran. Saya ngotot di website persyaratan tersebut tidak ditegaskan. Gara-gara mereka lihat alamat saya dekat, mereka bujuk saya ambil dulu saja ijazah lain di rumah dengan iming-iming tanpa antri lagi. Ya sudah akhirnya pulang dulu -___-

Berikut cara buat e-paspor saya kemarin,

1.   Cek persyaratan dokumen di sini
2.   Daftar online di sini
3.   Isi kelengkapan formulir pra permohonan personal
4.   Pilih Epaspor 48th dan kantor imigrasi mana kamu akan datang
5.   Pihak imigrasi nanti akan konfirmasi kamu via email untuk pembayaran
6.   Melakukan pembayaran di bank BNI
7.   Pihak imigrasi kembali konfirmasi via email
8.   Membawa surat pra permohonan ke kantor imigrasi sesuai jadwal
9.   Ambil nomor antrian
10. Petugas cek dokumen dan kita dapat nomor antrian selanjutnya
11. Beli formulir pernyataan di koperasi kantor imigrasi
12. Tunggu antrian sambil isi formulir
13. Dokumen kembali dicek dan ditanyakan dokumen asli
14. Wawancara dan ambil sidik jari serta foto
15. Diberi tanda bukti pengambilan paspor
16. Paspor diambil setelah 3 (tiga) hari kerja

Untuk pengambilan paspor kebetulan cuti sudah habis, untuk itu diwakilkan oleh kakak saya untuk mengambil. Jaga-jaga takut diminta, saya buat surat kuasa dengan materai. Ternyata kalau keluarga yang mewakili tidak usah dengan surat kuasa, cukup menunjukkan KTP saja.

Cukup singkat kan, saya hanya datang dari jam delapan pagi dan selesai jam dua siang. Itupun kepotong istirahat siang pegawai kantor imigrasi dan pulang dulu ke rumah ambil ijazah. Jadi, saran saya walaupun daftar online datanglah pagi agar selesai sebelum makan siang.

Jika daftar manual, sholat shubuh lah di kantor imigrasi niscaya tidak antri lama-lama ^_^



Selasa, 05 November 2013

Dari Ende Menuju Maumere

Haee udah lama sekali rasanya nggak nulis postingan di sini, kali ini mau nulis pengalaman traveling selama penempatan di Nusa Tenggara Timur. Ini pertama kali traveling ke luar Jawa karena kebetulan penempatan kerja di sini juga.

Sebenarnya traveling ini udah lama sekitar bulan Maret lalu karena penyakit males dan mood maka baru sekarang pengalaman ini ditulis buat blog

Ini termasuk perjalanan gue yang cukup nekat karena ini menjadi solo traveler pertama bermodalkan ketemu temen satu angkatan yang tugas di Ende dan Maumere buat janjian ketemu. Bisa dibilang ini perjalanan patah hati juga tapi entahlah yang jelas kini gue sudah move on :)

Jadi, tiga hari long weekend ini mau dihabiskan di pulau Flores berangkat menuju Ende kemudian menyusuri jalan darat ke Maumere dan pulang ke Kupang dari Maumere. NTT ini merupakan provinsi kepulauan dimana antar pulau transportasi yang mendukung adalah jalur laut dan udara, gue milih udara aja biar singkat dan cepat. Maka, jadilah ini perjalanan dengan budget fantastis karena dengan tiket pesawat pp dan penginapan hotel di dua tempat berbeda.


Hari Pertama

Pesawat tiba pagi sekali di Ende dan rasanya bahagia sekali menyambut liburan ini.

Welcome :)

Langsung disuguhi pemandangan gunung
Rencana pagi ini setelah sarapan mau wisata sejarah ke rumah pengasingan Bung Karno dan ke beberapa pantai yang dekat dari kota aja. Sayangnya rumah pengasingan Bung Karno tutup, jadi hanya bisa foto dari luar aja :(


Sedang direhab

Rumah pengasingan Bung Karno dari luar

Pantai dekat pusat kota Ende

  
Pantainya ini kurang bagus karena banyak sampah dan cukup banyak pengunjung seperti warga lokal jadi kurang terawat gitu tapi kalau buat santai-santai sih ya lumayan.

Pelabuhan kota Ende

Masih di sekitar pelabuhan, cakep yak ! :)


Pelabuhan ini katanya udah ditutup sih karena ada pernah ada kapal yang tenggelam di dermaga sini, aneh sih yak kok bisa tenggelam di dermaga ? Walaupun udah tidak dipakai, warga lokal suka menggunakan untuk memancing atau bermain-main di sini.

Selanjutnya ke Pantai Mbuu, pantai ini dekat kota juga kok nggak jauh-jauh. Berikut foto-fotonya.

Batu besar di tengah laut pantai Mbuu


Menunggu sunset :)

Little girl


Sunset, selamat malam Ende

Hari kedua

Hari kedua pagi-pagi sekali akan menuju danau Kelimutu yang langsung dilanjutkan menuju Maumere, jadi packing semua barang yang dibawa sekaligus check out. Perjalanan menuju Danau Kelimutu sekitar 3 jam dan jalanan cukup berkelok-kelok jadi bagi suka mabuk darat cukup mampu buat perut mual.

Mampir di pemandian air hangat langsung dari mata air Ende
Akhirnya sampai juga, welcome Kelimutu
Dari gapura welcome ternyata masih jauh menuju danau Kelimutu kemudian dilanjutkan dengan treking yang juga lumayan jauh dan mendaki, kalau jarang olahraga akan berasa sekali ngos-ngosan seperti gue hehe. Sepanjang jalan menuju danau banyak monyet liar, nggak galak kok malah kalau lihat kita dia takut jadi buat foto mereka diam-diam gitu.
Monyet liar di sepanjang jalan menuju danau
Danau Kelimutu ada tiga danau dengan warna berbeda, kalau menurut Wikipedia sih warnanya itu Biru, Merah dan Putih tapi sepengamatan gue kemarin datang tiga warna itu Hijau, Merah dan Hitam. Perubahan itu memang dipengaruhi cuaca dan iklim.

Setelah jalan cukup jauh danau pertama yang bisa jumpai itu danau merah, kalau menurut sejarahnya danau merah ini tempat berkumpulnya roh-roh orang meninggal yang semasa hidupnya suka melakukan kejahatan/tenung.

Kata seorang teman, "coba deh lempar batu ke tengah danau, pasti nggak bisa karena akan selalu berlari ke pinggir danau batunya".

Kita penasaran kemudian mencoba lempar batu sekuat tenaga menuju tengah danau dari batu kecil dan batu cukup besar hasilnnya benar batu selalu menuju ke pinggir danau.

Danau merah 
Selanjutnya untuk menuju danau berikutnya jalanan yang harus ditempuh ternyata lebih jauh lagi yaitu menuju puncak bukit, hoss hoss. Kalau mau menuju danau lebih baik pagi sekali karena kalau sudah siang sedikit panasnya luar biasa.
Itu jalanan yang harus di tempuh hingga sampai puncak

Jalan sudah difasilitasi tangga
Pemandangan dari puncak
Danau Hitam


Danau Hijau




Di puncak ada tugunya


Dengan kain tenun khas Ende



Hari Ketiga

Hari ini akan ke pantai Tanjung di Maumere, entahlah nggak bisa berkata-kata buat keindahan alam yang masih murni ini. Perpaduan bukit dan pantai sungguh buat bersyukur berkali-kali dengan keindahannya, ternyata laut di Flores lebih bagus memang benar adanya. Pantainya pun masih sepi sekali cuma ada rombongan kita aja yang di sekitaran pantai.



Foto favorit :)







Taken by Bang Daru