Minggu, 03 Januari 2016

Cara Daftar Bebas Visa Jepang (Visa Waiver)

Pasti kalian sudah dengar kan ya kalau sekarang Jepang bebas visa. Tuh makin gampang kan mau traveling ke Jepang. Saya mau cerita bagaimana cara mengurus visa waiver untuk perjalanan saya ke Jepang kemarin. Pastikan paspor kalian adalah e-paspor ya, kalau bukan e-paspor maka harus apply visa seperti biasa. Cara buat e-paspor bisa baca di sini.

Kok bebas visa masih harus daftar lagi sik ? Ribet nggak ?

Nggak, nggak ribet sama sekali kok. Nggak seperti apply visa biasa yang harus menunjukkan rekening koran atau itinerary. Visa waiver ini hanya butuh e-paspor aktif yang masih berlaku dan form pendaftaran visa waiver. Form pendaftaran bisa didownload di sini.

form pendaftaran yang harus diisi


Ini langkah-langkah cara membuat visa waiver Jepang,
  • Datang ke Kedutaan Jepang jam 8.30-12.00 ini waktu pendaftarannya
  • Kedutaan Jepang letaknya sebelah Plaza Indonesia, biasanya kelihatan ada antrian di luarnya.
  • Masuk ke Kedutaan Jepang pertama adalah menyerahkan KTP atau ID ditukar dengan pass masuk, kemudian melewati scanning dan menuju tempat pengurusan visa.
  • Ruangan pengurusan visa ada mesin nomer antrian di depan sebelah kanan, tinggal pencet tombol maka akan keluar nomor antrian dan kita tunggu hingga nomer antrian kita tiba.
  • Perhatikan baik-baik nomer antrian tiap loket, jika sudah pada nomer antrian milik kita harus segera menuju loket agar nggak dilewati.
  • Saat di loket hanya menyerahkan e-paspor dan form pendaftaran visa waiver. Kemudian, kita akan dapat slip bukti pengambilan.
  • Proses pendaftaran dua hari kerja. Saya submit hari Kamis, hari Jumat sudah bisa diambil.
  • Besoknya pada hari Jumat waktu pengambilan e-paspor dan visa waiver pada jam 13.00-15.00
Nomer antrian pendaftaran

Yeay ! Visa Waiver jadi..

Pengalaman saya sendiri ketika di bagian Imigrasi bandara Haneda, Jepang. Saya hanya dicek paspor saja, nggak ditanya-tanya macam-macam. Padahal sudah was-was karena foto di paspor belum hijaban. Berbeda dengan teman saya yang juga satu perjalanan, dengan petugas imigrasi yang berbeda diminta menunjukkan itinerary dan bukti booking hotel. Dugaan kami karena teman saya ini gugup sik jadinya buat curiga petugas imigrasi hehe. 

Nah, buat jaga-jaga disiapkan saja itinerary dan bukti booking hotel siapa tahu ditanya petugas imigrasi.

Tuh kan urus visa waiver mudah banget, semudah jatuh cinta. Eaaakk hehe..



Salam Jalan-Jalan,
Tristy

Jumat, 09 Oktober 2015

Cerita Tentang Membaca dan Menulis

Waktu itu saya kelas enam sekolah dasar, sebuah sekolah negeri di kelurahan Kebon Kosong. Kelas saya bersebelahan dengan perpustakaan kecil yang sebenarnya bergabung dengan ruangan kepala sekolah. Perpustakaan kecil itu memiliki buku cerita rakyat berbagai daerah di Indonesia. Saat istirahat atau saat guru kelas kami tak ada biasanya saya meluncur ke perpustakaan.

Saya juga biasa meminjam untuk dibawa pulang ke rumah, beberapa ada yang belum saya kembalikan, saat menyadari hal itu saat saya sudah lulus dari sekolah itu. Perpustakaan kecil itu menyumbang banyak pada kebiasaan saya membaca. Saya jadi tahu cerita Sangkuriang, Malin Kundang dan Lutung Kasarung. Bahkan saya kecil yang tak suka makan durian, bisa tahu jika mabuk durian maka minumlah air yang ditaruh di kulit durian. Hal itu saya dapatkan dari buku cerita tentang petani durian di Jambi.

Ternyata saya kecil sudah suka membaca. Namun, saya kecil juga sudah dipaksa mencintai matematika. Bukan dipaksa sebenarnya, ayah saya lebih sering memberi saya banyak latihan soal matematika atau kalau dia menceritakan sesuatu pun bentuk soal cerita matematika untuk mengasah logika saya, bukan buku-buku cerita. Jika dianalogikan, pada matematika saya jatuh cinta karena terbiasa tapi pada membaca saya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kemudian..

Saat saya di bangku sekolah menengah, saya mengenal apa itu buku diary. Aktivitas membaca hanya saya dapat dari novel pinjaman. Jarang sekali saya membaca pada masa itu. Saya lalu mengenal menulis, lewat buku diary itu saya suka menulis. Menulis hal-hal aneh tentang rasa suka, sahabat atau kegiatan sehari-hari yang saya kerjakan.

Saya ini orang yang agak rumit, bahkan saya sendiri saja tidak paham diri saya. Kerumitan ini yang membuat saya tidak mudah menceritakan isi kepala dan hati kepada orang lain. Dalam keluarga dan pertemanan mungkin saya yang jarang bercerita hal pribadi.

Saya terus menulis diary bahkan sampai saya kuliah, aktivitas ini menyenangkan buat saya karena saya bisa mengeluarkan isi kepala dan hati bukan pada orang lain melainkan sebuah buku. Buku diary itu paling setia yang tak pernah membeberkan rahasia.

Pernah suatu hari kakak saya menelpon, saat itu saya sudah nun jauh merantau dari rumah. Kakak saya membereskan kamar saya lalu menemukan sebuah buku diary dan membacanya. Ya, dia membaca buku diary saya yang dengan cerobohnya lupa saya musnahkan dari rumah sebelum saya pergi. Kali ini buku diary tak lagi setia, dia menelenjangi semua rahasia.

Bukan meledek justru kakak saya heran, bukan dengan isi tulisannya tapi dengan bagaimana saya menulis. Saya bahkan sudah lupa buku diary mana yang dia temukan, apalagi tulisannya. Dia bilang, "teruslah menulis, saya suka tulisanmu". Sejak saat itu lebih semangat menulis.

Saya berhenti menulis buku diary, saya membuat blog saat saya tingkat akhir kuliah. Saya masih menulis seperti saya menulis diary, kadang saya publish untuk diposting tapi kadang hanya tersimpan di draft saja. Tulisan di blog ini seperti metamorfosa dari tahun ke tahun, dari kedewasaan saya, dari cara menulis. Kadang saya tersenyum geli melihat postingan saya di tahun-tahun lalu.

Menulis buat saya itu adalah mengobati, ada hal yang sulit saya bagi pada orang lain maka saya tulis lewat kata. Ketika saya sedih, bahagia dan hal-hal lain yang saya anggap menarik selalu saya ingin tulis. Bahkan, saya bisa tahu bahwa saya benar-benar mencintai laki-laki kalau saya mampu menuliskan sesuatu tentangnya.

Jika menulis itu mengobati maka membaca adalah obatnya. Dua hal yang tak terpisahkan, membaca dan menulis. Jika kamu suka menulis maka sudah pasti kamu harus suka membaca juga.

Jadi, ini tahun keempat usia blog ini. Entah kapan saya akan berhenti menulis di blog seperti saya berhenti menulis diary kemudian berganti media, atau bahkan saya berhenti menulis. Entah. 

Terima kasih kepada siapa saja yang menyempatkan membaca blog ini. Anggap ini adalah anniversary blog ini yang keempat hehe..

Panjang juga ya, postingannya :)


Salam,
Tristy

Senin, 21 September 2015

Selamat Pagi

Jika setiap pagi adalah mimpi, maka pagi ini bermimpi kamu ada di depan saya. Meminum kopi buatan saya sambil berbicara banyak. Berbicara remeh temeh sampai saya tergelak atau berbicara serius sampai dahi saya mengkerut. Memandang wajahmu, menatap matamu dalam dan memperhatikan perubahan mimikmu saat kamu bicara.

Ketahuilah, sejak bertemu kamu mimpi-mimpi saya menjadi sederhana tak muluk-muluk berisi ego dan ambisi. Saya hanya ingin terus menjadi lebih baik. Saya merasa tenang. Itu saja.

Semoga semesta mengijinkan kelak kita akan selalu bertemu di setiap pagi. Meminum kopi dan berbicara banyak hal tanpa jemu.


Selamat pagi, Kamu :')


Sudah bikin kopi pagi ini ?




Salam,
Pecinta Kopi Good Day Cappuccino 

Senin, 20 Juli 2015

Sebuah Cerita Dari Sahabat Lama

Siang itu saya bertemu sahabat lama saya di sebuah cafe di bilangan Jakarta Utara. Kami jarang bertemu sejak saya bekerja di luar kota. Praktis hanya bertemu jika saya sedang pulang ke Jakarta, lagi pula dengan kesibukan yang berbeda membuat kita sulit menyatukan jadwal. Saya pun jika pulang ke Jakarta sebisa mungkin menyempatkan waktu untuk bertemu dan berbincang hangat. Bagi saya berbincang dengan sahabat lama adalah oase di tengah gegap gempitanya hidup.

Perbincangan siang itu sahabat saya bercerita jika dia tidak jadi menikah dan putus dari pacarnya yang telah tujuh tahun bersama. Ya, tujuh tahun. Saya paham kondisi itu tapi memang persahabatan antara kami tak pernah se-menye-menye perempuan kebanyakan yang curhat diiringi tangisan. Dia bercerita tetap lantang tanpa ada nada sedih. Saya tak berkomentar apapun, saya paham dia hanya butuh didengar.

'Sebelumnya semua baik-baik saja, sampai dia mengakhiri semua tiba-tiba dan masih menjadi tanda tanya besar hingga sekarang', ujar sahabat saya sambil mengaduk dessert pesanannya.

Selang beberapa bulan patah hatinya, dia bertemu lelaki baik yang datang membuatnya jauh lebih baik. Dia terus bercerita tentang betapa baiknya lelaki itu. Saya bahagia mendengarnya apalagi lelaki baik ini berniat serius akan menikahi sahabat saya ini dalam waktu dekat. Sebagai sahabat saya pun menyelidik, bahagia saya ini harus saya konfirmasi padanya.

Apakah dia juga benar-benar bahagia juga ?

Lalu pelan-pelan saya bertanya, 
'Kamu bahagia kan sekarang, yang lalu sudah benar-benar selesai di hatimu ?'.

Seperkian detik sahabat saya terdiam sambil memandang lalu lalang kendaraan di luar cafe, hingga kemudian dia menjawab.

Ya, semua sudah selesai.

Saya tersenyum dengan jawaban itu. Buat saya di seperkian detik dia terdiam adalah jawaban sesungguhnya bahwa semua belum benar-benar selesai. Saya tahu dia sedang berkhianat pada hati kecilnya sendiri.

Di akhir perbincangan saya memberikan sedikit nasehat sebagai seorang sahabat yang ingin sahabatnya benar-benar bahagia bukan karena harus bahagia,

Kamu tidak harus memaksa bahagia untuk menyembuhkan luka, lukamu sembuh kemudian berbahagialah. Jangan terburu-buru memutuskan untuk menyembuhkan luka, adakalanya luka hanya butuh waktu.

---
Ini bukan pertama saya mendapat cerita seseorang yang akan menikah namun perkara lalu dalam hatinya belum selesai. Semua berpikir sama bahwa mungkin pernikahan dapat mengobati.

Saya bergidik ngeri.

Kelak nanti saya akan memastikan bahwa lelaki yang berniat menikahi saya adalah lelaki yang hatinya telah selesai segala perkara lalunya. Bukan seseorang yang menjadikan pernikahan media penyembuhan luka.

Semoga..


Salam,
Tristy

Minggu, 05 Juli 2015

Pulang

Mulai malam ini tinggal menghitung hari untuk pulang ke rumah :)

Insya Allah malam minggu besok sudah mamam masakan rumah dan melihat wajah-wajah orang kesayangan di rumah.

Seperti biasa menjelang cuti itu pekerjaan buanyak banget tapi saya happy dan semangat banget ngerjainnya karena setelah itu saya bisa mudik dengan bahagia. Sudah hampir tiga tahun merantau jauh dari rumah dan momen pulang selalu membahagiakan seperti ini.

Kadang dalam perjalanan entah untuk pulang ke rumah atau ketika balik ke rantau, diam-diam hati kecil bilang,

Sampai kapan ya harus begini ?

Kalau dulu saat belum merantau, bulan puasa gini saya malah lebih banyak buka puasa di luar. Bisa dihitung buka puasa di rumah. Hal yang sering dikomplain banget sama orang rumah.

Sekarang saat jauh gini baru kerasa deh, buka puasa sama orang rumah sesuatu yang "mahal". Sesuatu yang sangat diinginkan dan dirindukan.

Gitu ya, setelah mendewasa ternyata hal-hal yang kita inginkan adalah hal-hal sederhana yang sebenarnya pernah kita punya cuma kita abaikan :)

Soalnya katanya memang gitu, 

Sesuatu itu baru berasa berarti kalau jauh, hilang atau sudah nggak ada.

So, kalau kalian sekarang dekat dengan keluarga. Maksimalkan waktu sama mereka. Dengarkan cerita-cerita Ayah Ibu kalian. Cium kening mereka sesekali. Pijat-pijat kakinya yang telah menua sambil mendengarkan ceritanya.

Hal itu memang terdengar aneh tapi percayalah hal-hal itu yang ingin kalian lakukan setelah kalian mengerti,

"mahal"-nya pulang ke rumah..


Salam,
Tristy

Minggu, 28 Juni 2015

Sebuah Doa

Kita mungkin pernah bertemu seseorang yang kita pikir dialah orang yang tepat. Memercayainya penuh bahwa dialah satu-satunya. Menjaga dan menyimpan namanya dalam hati. Berharap di masa depan dialah yang berjalan di sisimu dan menggenggam tanganmu dalam hidup yang tak menentu.

Kemudian..

Kita berpisah entah dengan cara dia tak setia, dia meninggalkan atau justru kita yang memilih pergi. Dan kita kecewa. Kita benci dia.

Kita lupa bahwa ada hal-hal yang tak mampu kita kendalikan, yang tak mampu kita ubah. Dia bernama takdir. Lebih memercayai seseorang dibanding Penciptanya saya rasa itu kesalahan yang selalu kita lupa.

Saya percaya jika seseorang pergi itu karena pada jalan ceritaNya, itu karena waktu saya dan dia telah habis.Tak peduli sesedih apa ketika semuanya berakhir, saya yakin ada seseorang lain di sana yang Tuhan jaga baik-baik untuk bertemu saya kelak dan menjadikan satu-satunya satu sama lain.

Dan akan wajar jika kita pernah gagal maka akan ragu untuk memulai kembali.


Seperti nasihat kakak saya, 

Serahkan semuanya sama Allah. Sebagian kesuksesan itu adalah menyerahkan segalanya kepada Allah di awal perjalanan..

Jadi, saat kamu bertemu seseorang itu jangan memintanya untuk setia dan tetap bertahan hingga akhir. Mintalah pada Penciptanya untuk menjadikan dia yang terakhir.

di sepertiga malam
salam,
Tristy

Kamis, 19 Maret 2015

Beda Masa, Beda Pemahaman

Malam-malam saya beresin kost, siapin bahan masakan buat sarapan besok dan bersih-bersih kamar. Malam ini udah jam 21.00 WITA, orang-orang mah lagi tiduran sambil nonton TV eh ini saya malah beresin kamar. Akibat sore tadi pulang kantor ketiduran, jadilah sampai malam begini belum selesai urusan. Padahal sendirian juga di kost, kalau mau diabaikan, udahlah besok aja dikerjainya.

Tapi, nggak bisa euy ! Kepikiran kalau ruangan belum bersih, rapih dan besok belum siap masak itu nggak enak. Pokoknya harusnya dikerjain sekarang, walau udah malam sekalipun.

Kejadian itu buat saya keingetan sama ibu saya, beliau itu ibu rumah tangga sejati yang meninggalkan pekerjaannya sejak menikah. Ibu saya ini hobi sekali beresin dan bersih-bersih rumah. Beliau nggak suka rumah berantakan, kotor dan barang diletakan di tempat yang tak seharusnya. Interior rumah kami ini tak pernah sama setiap bulan, ibu selalu merombak tatanan barang di rumah. Bulan ini rak TV menghadap utara, mungkin bulan depan sudah menghadap selatan.

Saya sebagai anaknya dulu kadang suka stress, ya maklum dulu kan masih abege gitu dan dasarnya anak males. Punya ibu yang nggak suka rumah berantakan dan kotor, praktis saya sering dimarahi gara-gara saya suka asal-asalan gitu. Paling stress kalau hari libur, mood ibu "bongkar" tatanan rumah muncul, praktis kami anak-anaknya kudu bantuin sampai selesai dan kegiatan "bongkar" itu bikin capek sodara-sodara. Hari libur buat nonton kartun dan leyeh-leyeh sirna sudah T_T

Pernah suatu malam, ibu saya beres-beres dapur dan menyiapkan bahan masak buat besok. Saya bilang sama ibu saya,

Bu, kan bisa dikerjain besok aja. Udah malam juga.

Nggak bisa dek, kepikiran kalau belum dikerjain sekarang.

Dalam hati saya, ya ampun ibu lebay sekali ihh *sambil bantuin*

Pernah juga waktu ibu beresin rumah dan isi lemari, saya bilang,

Bu, nanti aja diberesinnya sekalian kan nanti berantakan lagi. Kan capek beresin ulang-ulang.

Ibu nggak betah lihatnya dek.

Dalam hati lagi, duh ibu saya ini deh.

=======

12 tahun kemudian dan ribuan kilometer jarak dari rumah, saya di kamar kost sedang beres-beres kamar dan menyiapkan bahan masakan buat besok pagi pukul 21.00 WITA. Udah malam,

kenapa nggak besok aja ?

Nggak bisa, nanti kepikiran kalau belum dikerjain.

Like mother, like daughter hehe

Sekarang saya bisa merasakan perasaan ibu saya, sebagai penanggungjawab rumah dan keperluan kami sehari-hari segala sesuatu harus berjalan baik, tidak boleh ada yang ditunda maupun dilewatkan. Kalau malam ibu belum siapkan bahan masakan, maka bisa jadi besok kami telat sarapan. Mungkin itulah yang buat ibu kepikiran kalau tidak dikerjakan malam itu juga :)

Setelah saya merantau jauh dari rumah dan tinggal sendiri, saya sebagai penanggungjawab rumah mini alias kamar kost, saya ini mirip sekali dengan ibu. Saya nggak betah kalau kamar berantakan dan kotor. Saya akan kepikiran kalau ada pekerjaan tidak dilakukan sekarang juga, seperti malam ini.

Saya berterima kasih dengan ibu menjadikan saya seperti ini. Love you, bu !

========

Ada hal yang bisa saya pahami di sini, bahwa beda masa itu beda pemahaman. Saya kecil mungkin tidak paham bagaimana perasaan dan ruang berpikir ibu saya, hingga sering komplain ke beliau. Hingga saya berada pada masa yang sama sebagai penanggungjawab rumah dan diri saya sendiri, baru saya menyadari, lebih dari sekedar paham.

Kepada adik-adik saya, kadang suka gemes karena mereka malas belajar. Dengan memarahi mereka, tak akan membuat mereka sadar bahwa belajar itu jauh menyenangkan dibanding stress beban pekerjaan karena mereka belum pada masanya bekerja seperti saya.

Mungkin di pekerjaan juga begitu, kadang kita sebal dengan atasan atau senior yang umurnya jauh di atas kita. Kita sebal dengan kebijakan, keputusan dan sikapnya atas suatu hal. Ingat, mungkin kita belum pada masa sebagai pimpinan dengan banyak tekanan atau masa umur lebih tua dengan banyak pengalaman.

Kalau kata Dee, Jembatan masa itu bernama kerendahan hati. 

Masa itu seperti pohon, saat kita menjadi akar tidak bisa merasakan bagaimana dahan diterpa angin dan saat menjadi dahan kita lupa rasanya menjadi akar.

Salam,
Tristy..