Selasa, 07 Maret 2017

Review Kekecewaan Kepada Purnama Catering

Februari 2017 lalu saya menikah, tepatnya di aula Masjid Akbar Kemayoran Jakarta Pusat. Persiapan menikah memang menjadi permasalahan yang cukup rumit. Saya juga tidak tahu siapa yang memulai budaya menikah ribet karena resepsi. Sejatinya pesta pernikahan itu milik orang tua dan keluarga, kalau dari kami justru menginginkan acara sederhana.
Saya menikah di Jakarta, sementara domisili saya bekerja di NTT dan suami di Bandung. Praktis segala persiapan banyak mengandalkan keluarga dan dimaksimalkan dalam waktu yang mepet acara. Jujur saja H minus dua bulan saya belum fix banyak vendor. Sibuknya pekerjaan dan banyak menimbang berbagai hal membuat saya menunda-nunda.

Semua calon pengantin pasti sangat khawatir ketika menentukan pilihan pada vendor tertentu untuk acara yang seumur hidup satu kali. Semua calon pengantin tentu ingin segala hal sempurna, jika ada yang kurang pun itu bukan hal yang signifikan.

Kegalauan saya pada awal persiapan yaitu, memilih vendor satuan atau vendor paketan. Vendor satuan maksudnya catering, dekor, dan lainnya merupakan vendor terpisah. Vendor paketan yaitu semua menjadi satu. Memilih salah satu dari hal tersebut juga mempertimbangkan biaya dan budget, serta pertimbangan efesiensi.

Akhirnya setelah riset dan banyak meminta pricelist dari berbagai vendor, resmi pilihan saya jatuh pada Vendor Paket Wedding dari Purnama Catering. Selain alasan efesiensi, vendor ini pernah menangani pernikahan kakak saya di tahun 2014. Saya pikir karena pernah dipakai keluarga pasti aman, ternyata pada perjalanannya saya justru sangat kecewa dengan vendor ini.

Berikut beberapa hal yang bisa jadi pertimbangan calon pengantin di daerah Jakarta Pusat dan sekitarnya jika ingin memilih Purnama Catering.

Harga

Harga yang tertera pada brosur yang diberikan memang menggiurkan karena dibanding vendor paketan wedding lain yang selevel, Purnama Catering ini bisa dibilang lebih murah. Sayangnya, saat kita detail ingin konsep dan acara seperti apa, akan ada banyak biaya tambahan lain-lain. Misalnya ingin dekor tertentu nambah lagi, untuk baju akad nambah, untuk adat tertentu nambah, dan charge lainnya yang silahkan ditanyakan detail dahulu.

Koordinasi

Hal ini yang super duper membuat saya senewen sesungguhnya. Jadi, Purnama Catering sepertinya mempunyai divisi yang berbeda-beda dalam menangani berbagai hal. Contohnya saya kemaren, undangan urusan dengan Pak A, catering dan dekor urusan sama mbak B, makeup dan baju urusan sama mbak C. Ketiganya saya yang kontak sendiri untuk progress dan lain-lainnya. Kadang pas menanyakan sesuatu suka dilempar-lempar, dijawab "saya tidak ngurusin itu mbak, coba tanya si C, A dll..".

Err..

Jujur saja ketidakjelasan koordinasi ini membuat saya khawatir. Apalagi saat saya menanyakan run down acara bagaimana, mereka tidak punya run down acara yang jelas. Sebagai orang yang detail dan sering menjadi seksi acara dan event tentunya saya patut curiga. Saya akhirnya menambah Wedding Organizer sebagai panitia dalam acara, yang juga koordinasi pada masa persiapan. Alasan saya tentu ingin keluarga saya menikmati acara tidak dibebankan jadi panitia.

Pada perjalanannya, pihak Purnama Catering ini sangat tidak kooperatif. Pihak WO menanyakan run down acara namun ditanggapi tidak jelas, menanyakan Contact Person yang menangani acara dll tidak direspon, diajak briefing acara menolak datang. Paling fatal adalah periasnya terlambat datang pada hari H, saya menunggu hampir satu jam. Dampaknya adalah rangkaian acara akad yang terganggu dan mood saya menuju meja akad yang buruk!

Saat pihak Purnama Catering menolak briefing dengan kami, jawaban mereka adalah..

"Kita sudah biasa menangani banyak wedding dan sukses kok.."

Dear Purnama Catering jika anda sudah sering menangani banyak wedding, tidak dengan kami calon penganten yang baru menghadapi pernikahan dan satu kali seumur hidup. Ketidakjelasan koordinasi kalian membuat kami sangat khawatir, berpengaruh pada psikologis kami calon penganten dan keluarga. Jawaban tersebut bukan menenangkan justru menjengkelkan.


Pakaian dan Riasan

Saya pribadi tidak suka dengan koleksi pakaian pernikahan dari Purnama Catering. Mungkin ini masalah selera tapi memang pilihan pakaian mereka tidak variatif dan cenderung out of date. Saya memutuskan sewa dari vendor lain untuk pakaian resepsi.

Sebagai seseorang yang suka makeup tentu riasan jadi poin yang saya perhatikan juga. Saya ingin tahu siapa yang merias saya, bagaimana contoh hasil riasannya, sehingga saya bisa request beberapa hal. Sayangnya, pihak Purnama Catering tidak bisa memastikan nanti kita akan dirias oleh siapa. Bagian ini saya Bismillah saja :) 

Pelayanan

Pada bagian ini jika ada rate bintang seperti di aplikasi GoJek, tentu saya beri pada rentang bintang satu sampai tiga, tidak lebih! Mari kita bahas satu-satu pelayanan masing-masing bagian dari Purnama Catering.

Pertama, komunikasi dari pihak marketing hingga bagian lainnya kurang baik. Misal saya lagi mau nanya-nanya, eh mbaknya sambil ketawa ngobrol sama teman lainnya. Lain lagi ketika saya menanyakan hal yang tidak diketahui oleh mbaknya, mbak menyuruh kita tanya sendiri ke mbak lainnya :)

Kedua, perias yang terlambat datang yang dampaknya membuat mood saya menuju meja akad tidak karuan. Selain itu riasan yang tidak maksimal, waktu itu saya ingat bagian lipstick yang tidak simetris dipulasnya :( Saat touch up untuk resepsi bukan dengan perias penganten tapi dengan perias among tamu. Katanya mbak perias penganten lagi ngambil rapot anaknya ya Allah :( Untung riasan touch up lebih baik :)

Ketiga, fotografer yang mukanya asam terus dari awal akad sampai resepsi :) Sumpah ya mas fotografer dari pihak Purnama Catering ini sangat amat malesin banget. Saat mengarahkan gaya, nyuruh-nyuruh dengan wajah asam seolah dia fotografer handal dan kita model bayarannya :( Untung kami menambah lagi fotografer dari luar, dan perbedaan pelayanannya sangat jauuuh :)

Demikian kekecewaan yang sangat membuat saya harus membuat blog ini agar beberapa calon pengantin bisa mempertimbangkan saat memilih Purnama Catering. Terlepas dari beberapa kekecewaan saya, semua hal berjalan lancar dan baik. Saya cukup puas dengan hasil undangan dan catering. Namun, jika saya bisa mengulang waktu mungkin saya akan memilih vendor satuan saja dibanding vendor paketan wedding.

Bahwasanya, jika vendor satuan itu lebih fokus dan maksimal pada pelayannya. Berbeda dengan paketan wedding yang mana mereka ingin menampilkan harga yang membuat kita tertarik tapi kita belum tahu kualitas masing-masing bagiannya.

Salam,
Tristy

Menggunaka Siger Untuk Akad Nikah




Jumat, 09 Desember 2016

Membuat Cincin Lamaran


Sesuai janji postingan sebelumnya tentang lamaran, kali ini khusus mau bahas tentang membuat cincin lamaran. Sedikit cerita dulu ya, seperti yang diketahui kalau saya dan pacar itu LDR Kefamenanu dan Bandung. Persiapan untuk lamaran juga hanya dua bulan, ketika masih di Jakarta pada saat libur lebaran belum ada niat untuk lamaran di Oktober. Jadi, memang persiapan segala hal dilimpahkan ke keluarga dan komunikasi jarak jauh dengan saya.

Kemudian, saya dan pacar ingin di acara lamaran ada tukar cincin. Kebiasaan keluarga saya sik tukar cincin pada saat akad tapi kami maunya saat lamaran. Oke, setelah disetujui keluarga tukar cincin pada saat lamaran, kita mulai cari informasi tentang membuat cincin.

Pertama yang harus diperhatikan itu adalah material cincinnya, karena dalam Islam lelaki tidak boleh menggunakan emas. Googling lah saya tentang cincin nikah selain emas.

Hasil googling adalah selain emas ada material emas putih, perak dan palladium. Baca lebih detail ternyata emas putih pun masih ada kandungan emasnya. So, pilihan mengerucut di perak dan palladium.

Pacar sik bilang, "Kamu pakai emas aja, aku yang perak atau palladium..". Kemudian aku jawab,

Nggak lah, aku mau sama. Kan kita mau membina rumah tangga, masa dalam hal cincin aja beda.
Eaaak *ditimpukin pembaca* itu balada modusin pacar ceritanya :)
Oke, balik bahas topik cincin ya hehe.

Akhirnya kami memilih material palladium saja tanpa campuran material lain. Kami memakai 9 gram palladium untuk dua cincin dimana pembagiannya diatur oleh toko dan diamond untuk tambahan cincin saya.

Kedua hal yang diperhatikan itu adalah model cincin. Kalau saya sik ya, karena cincin ini akan dipakai terus menerus maka saya pilih model yang simple tapi elegan. Kekurangannya mungkin model yang simple adalah model yang mainstream. Akhirnya kami sepakat model simple dan untuk saya ditambah diamond untuk matanya. Kalau dari tokonya nama model cincin kami Vania Princess.

Ketiga, setelah pasti material dan modelnya maka selanjutnya tinggal cari tokonya. Saya cari toko yang bisa membuat cincin palladium di Bandung. Bagian ini juga kami dapat info dari hasil googling, baca-baca blog para bridezilla. Alasan saya untuk toko tentu harga yang tidak mahal dan lokasi toko yang tidak jauh dari kost pacar. Alasan pertama tentu Franc and Co nggak masuk lah ya hehe. Setelah baca banyak blog, banyak rekomendasi toko dan saya pilih yang lokasinya tidak jauh.

Laris Jewellery
Jalan Sukajadi No. 105
Bandung
022-2035252

Toko Blessing
Taman Kopo Indah III
Ruko G.10
022-85449113/081931155460

Akhirnya kami pilih Toko Blessing. Kami memakai 9 gram palladium untuk dua cincin ditambah diamond untuk cincin saya. Harga 1 gram palladium di toko ini untuk kondisi Oktober 2016 seharga 325 ribu. Ongkos pembuatannya 500 ribu, sudah dengan bonus tempat cincin dan nampan untuk lamarannya. Menurut cerita pacar, toko Blessing ini pelayanannya bagus dan waktu pembuatan yang ternyata cepat sekali sekitar seminggu. Sayangnya, kata pacar jauh dari kost dan untuk Bandung yang macet jadi berasa makin jauh.

Kotak Cincin dan Nampan Cincin


Keempat adalah ukuran cincin. Lho kenapa ukuran malah yang terakhir? Karena ini yang cukup drama hehe. Sebelumnya, karena kami LDR saya googling cara mengukur cincin. Saya memakai tiga cara agar ukuran jari saya valid. Berikut cara yang gunakan.

Pertama, saya pinjam cincin orang kantor untuk saya coba. Setelah dapat yang pas, saya ukur diameternya. Ukur manual saja, letakan cincin di atas kertas dan lingkarkan dengan pensil. Setelah itu ukur dengan penggaris diameternya. Kedua, cara ini saya dapat dari hasil googling dicoba sampai tiga kali dan diambil rata-ratanya. Ketiga, cara gabungan dari cara pertama dan kedua yang bisa dilihat di sini.

Cara Kedua dan Gambar diambil dari sini

Dari ketiga cara tadi, hasil untuk diameter lingkar jari saya untuk ukuran cincin hampir sama. Sudah percaya diri dong sama ukuran. Ternyata eh ternyata, tokonya tidak bisa menerima ukuran dengan cara seperti itu karena takut salah ukuran.

JENG JENG..

Dan itu dua minggu sebelum acara lamaran. Deg-degan dong, gimana neh. Jadi galau juga, kalau nanti cincinnya nggak pas gimana. Akhirnya dikasih solusi sama tokonya agar saya mengunjungi toko emas di kota saya. Kemudian, saya coba ukuran cincin di toko tersebut karena toko emas itu punya ukuran standar. Ternyata benar, saya datang ke toko emas di Kefamenanu di sana mereka punya replika cincin dengan berbagai ukuran standar. Saya minta ijin untuk coba ukuran cincin, sambil sok nanya-nanya aja padahal mah tidak niat beli hehe. 

Oke, dapatlah ukuran saya yaitu 8 dan UKURAN PAK PACAR adalah 17 :)))

Itu cerita saya tentang membuat cincin di Bandung. Semoga membantu para bridezilla di luar sana :)


Jumat, 02 Desember 2016

Persiapan Lamaran

Ejiyee akhirnya dilamar :)

Saya mau cerita tentang lamaran kemarin karena merasa terbantu dengan cerita para blogger mengenai printilan lamaran, sepertinya saya ingin berbagi cerita. Persiapan lamaran ini cukup unik nan ribet karena saya di Kefamenanu (NTT), pacar di Bandung, keluarga saya di Jakarta dan keluarga pacar di Wonosobo. Bukan kita saja yang LDR tapi sama keluarga juga kami LDR hiks. Praktis segala halnya komunikasi via telpon dan bantuan kakak saya di Jakarta. 

Lamaran ini sebenarnya ingin simple aja seperti temu keluarga. Namun, tetap saja jadinya memang banyak hal yang diurusi. Jadi, bagi-bagi tugas deh sama pacar. Berikut printilan lamaran yang disiapkan.

Seserahan

Untuk seserahan lamaran ini saya belum mau seserahan komplit keperluan saya. Jadi, bawaan seserahan hanya makanan dan buah saja. Karena pacar yang akan datang mepet ke Jakarta dan tidak memungkinkan bawa banyak bawaan seserahan dari luar kota. Akhirnya, seserahan ini saya yang handle.

Googling tentang packaging seserahan ini ada beberapa opsi. Pertama, beli isi dan kotaknya sendiri. Kedua, isinya beli sendiri tapi kotaknya sewa. Ketiga, jasa seserahan dimana isinya dan kotaknya udah jadi. Awalnya saya pilih opsi ketiga karena nggak mau ribet dan nemu jasa seserahan yang dekat dari rumah dengan harga yang reasonable.

Setelah pulang ke rumah justru jadi pilih opsi pertama karena pertimbangan kuenya bisa milih sesuai selera lebih baik beli sendiri. Oke, untuk kue saya pilih kue kering, cupcake dan red velvet yang pesan di Clairmont Bakery dan Dapur Cokelat . Setelah itu cari kotak seserahan di Mayestik, di lantai basement itu banyak banget toko kotak seserahan, lucu-lucu pula.

Ternyata selain jual kotak, tokonya jual jasa juga buat menghias. Jadi, kita sudah bawa kue keringnya dan pilih mau pakai kotak mana kemudian langsung dihias sama masnya. Pilihan jatuh pada toko Immanuel, tokonya dekat eskalator. Tidak sempat keliling buat membandingkan harga, saya pilih karena di toko ini banyak pilihan kotak. Untuk kotak sekitar ukuran 20-25 cm sudah dengan hiasan harganya 60ribu rupiah.

Aneka cokelat di Dapur Cokelat

Cake dari Fairmont

Toko Kotak Seserahan Pilihan Saya

Lagi Nunggu Masnya Hias Kotak, Foto-Foto Dulu

Seserahan Acara Lamaran, Abaikan Yang Di Belakang ya :) 


Cincin

Lamaran sebenarnya bisa tanpa cincin tapi kami maunya pakai cincin, yowis pak pacar yang urus tentang cincin karena dia lagi di Bandung. Urus tentang cincin juga agak ribet karena posisi LDR kami ini hehe. Nanti saya buat posting tersendiri tentang cincin ya :)

Cincin Lamaran

Akomodasi

Posisi keluarga pacar yang beda kota ini pun buat kita harus punya porsi mikirin penginapan, transportasi dan lainnya. Mencari penginapan pun pertimbangannya banyak, konsep penginapan yang homey, ada tempat  parkir, nggak jauh rumah saya dan tentunya aksesnya mudah.

Catering

Kalau ini hak prerogatif ibu dan ayah saya yang ingin catering bukan masak sendiri hehe. Dibantu kakak saya, akhirnya keluarga pakai purnama catering.

DIY Tulisan di Dekorasi Karya Adek Sendiri Hehe


Baju dan Makeup

Baju ini cuma buat seru aja biar pakai baju matching gitu sama pacar pas lamaran. Akhirnya pesan kain di (ig) wellyboutique buat pacar kainnya buat atasan, kalau buat saya jadi rok. Untuk makeup saya pakai MUA (ig) hanastudioo yang hasilnya saya sukaa :)

Suka Banget Sama Hasil Makeup Ini


Susunan Acara

Inti dari semuanya ya acara sik, susunan acara saya dapat dari googling dengan sedikit modifikasi. Saya memilih acara yang tidak formal banget, jadi MC dan perwakilan keluarga pun menyesuaikan pada akhirnya acara berjalan santai dan cair. Sebelumnya sudah harus ditentukan siapa MC, perwakilan keluarga yang bicara dan pembaca doa. Baiknya sebelumnya di-briefing sedikit dan di-print susunan acara beserta nama keluarga besar keduanya agar meminimalisir kesalahan menyebut nama keluarga.


Alhamdulillah acara lamaran berjalan lancar walau merasa sangat sedikit sekali dokumentasi, karena memang kita nggak pakai dokumentasi yang mumpuni hehe. Susunan acara pun memang tak ada sesi dokumentasi sik hehe.

and finally, happy engagement for us..



Semoga tahap selanjutnya selalu dilancarkan juga.



Minggu, 03 Januari 2016

Cara Daftar Bebas Visa Jepang (Visa Waiver)

Pasti kalian sudah dengar kan ya kalau sekarang Jepang bebas visa. Tuh makin gampang kan mau traveling ke Jepang. Saya mau cerita bagaimana cara mengurus visa waiver untuk perjalanan saya ke Jepang kemarin. Pastikan paspor kalian adalah e-paspor ya, kalau bukan e-paspor maka harus apply visa seperti biasa. Cara buat e-paspor bisa baca di sini.

Kok bebas visa masih harus daftar lagi sik ? Ribet nggak ?

Nggak, nggak ribet sama sekali kok. Nggak seperti apply visa biasa yang harus menunjukkan rekening koran atau itinerary. Visa waiver ini hanya butuh e-paspor aktif yang masih berlaku dan form pendaftaran visa waiver. Form pendaftaran bisa didownload di sini.

form pendaftaran yang harus diisi


Ini langkah-langkah cara membuat visa waiver Jepang,
  • Datang ke Kedutaan Jepang jam 8.30-12.00 ini waktu pendaftarannya
  • Kedutaan Jepang letaknya sebelah Plaza Indonesia, biasanya kelihatan ada antrian di luarnya.
  • Masuk ke Kedutaan Jepang pertama adalah menyerahkan KTP atau ID ditukar dengan pass masuk, kemudian melewati scanning dan menuju tempat pengurusan visa.
  • Ruangan pengurusan visa ada mesin nomer antrian di depan sebelah kanan, tinggal pencet tombol maka akan keluar nomor antrian dan kita tunggu hingga nomer antrian kita tiba.
  • Perhatikan baik-baik nomer antrian tiap loket, jika sudah pada nomer antrian milik kita harus segera menuju loket agar nggak dilewati.
  • Saat di loket hanya menyerahkan e-paspor dan form pendaftaran visa waiver. Kemudian, kita akan dapat slip bukti pengambilan.
  • Proses pendaftaran dua hari kerja. Saya submit hari Kamis, hari Jumat sudah bisa diambil.
  • Besoknya pada hari Jumat waktu pengambilan e-paspor dan visa waiver pada jam 13.00-15.00
Nomer antrian pendaftaran

Yeay ! Visa Waiver jadi..

Pengalaman saya sendiri ketika di bagian Imigrasi bandara Haneda, Jepang. Saya hanya dicek paspor saja, nggak ditanya-tanya macam-macam. Padahal sudah was-was karena foto di paspor belum hijaban. Berbeda dengan teman saya yang juga satu perjalanan, dengan petugas imigrasi yang berbeda diminta menunjukkan itinerary dan bukti booking hotel. Dugaan kami karena teman saya ini gugup sik jadinya buat curiga petugas imigrasi hehe. 

Nah, buat jaga-jaga disiapkan saja itinerary dan bukti booking hotel siapa tahu ditanya petugas imigrasi.

Tuh kan urus visa waiver mudah banget, semudah jatuh cinta. Eaaakk hehe..



Salam Jalan-Jalan,
Tristy

Jumat, 09 Oktober 2015

Cerita Tentang Membaca dan Menulis

Waktu itu saya kelas enam sekolah dasar, sebuah sekolah negeri di kelurahan Kebon Kosong. Kelas saya bersebelahan dengan perpustakaan kecil yang sebenarnya bergabung dengan ruangan kepala sekolah. Perpustakaan kecil itu memiliki buku cerita rakyat berbagai daerah di Indonesia. Saat istirahat atau saat guru kelas kami tak ada biasanya saya meluncur ke perpustakaan.

Saya juga biasa meminjam untuk dibawa pulang ke rumah, beberapa ada yang belum saya kembalikan, saat menyadari hal itu saat saya sudah lulus dari sekolah itu. Perpustakaan kecil itu menyumbang banyak pada kebiasaan saya membaca. Saya jadi tahu cerita Sangkuriang, Malin Kundang dan Lutung Kasarung. Bahkan saya kecil yang tak suka makan durian, bisa tahu jika mabuk durian maka minumlah air yang ditaruh di kulit durian. Hal itu saya dapatkan dari buku cerita tentang petani durian di Jambi.

Ternyata saya kecil sudah suka membaca. Namun, saya kecil juga sudah dipaksa mencintai matematika. Bukan dipaksa sebenarnya, ayah saya lebih sering memberi saya banyak latihan soal matematika atau kalau dia menceritakan sesuatu pun bentuk soal cerita matematika untuk mengasah logika saya, bukan buku-buku cerita. Jika dianalogikan, pada matematika saya jatuh cinta karena terbiasa tapi pada membaca saya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kemudian..

Saat saya di bangku sekolah menengah, saya mengenal apa itu buku diary. Aktivitas membaca hanya saya dapat dari novel pinjaman. Jarang sekali saya membaca pada masa itu. Saya lalu mengenal menulis, lewat buku diary itu saya suka menulis. Menulis hal-hal aneh tentang rasa suka, sahabat atau kegiatan sehari-hari yang saya kerjakan.

Saya ini orang yang agak rumit, bahkan saya sendiri saja tidak paham diri saya. Kerumitan ini yang membuat saya tidak mudah menceritakan isi kepala dan hati kepada orang lain. Dalam keluarga dan pertemanan mungkin saya yang jarang bercerita hal pribadi.

Saya terus menulis diary bahkan sampai saya kuliah, aktivitas ini menyenangkan buat saya karena saya bisa mengeluarkan isi kepala dan hati bukan pada orang lain melainkan sebuah buku. Buku diary itu paling setia yang tak pernah membeberkan rahasia.

Pernah suatu hari kakak saya menelpon, saat itu saya sudah nun jauh merantau dari rumah. Kakak saya membereskan kamar saya lalu menemukan sebuah buku diary dan membacanya. Ya, dia membaca buku diary saya yang dengan cerobohnya lupa saya musnahkan dari rumah sebelum saya pergi. Kali ini buku diary tak lagi setia, dia menelenjangi semua rahasia.

Bukan meledek justru kakak saya heran, bukan dengan isi tulisannya tapi dengan bagaimana saya menulis. Saya bahkan sudah lupa buku diary mana yang dia temukan, apalagi tulisannya. Dia bilang, "teruslah menulis, saya suka tulisanmu". Sejak saat itu lebih semangat menulis.

Saya berhenti menulis buku diary, saya membuat blog saat saya tingkat akhir kuliah. Saya masih menulis seperti saya menulis diary, kadang saya publish untuk diposting tapi kadang hanya tersimpan di draft saja. Tulisan di blog ini seperti metamorfosa dari tahun ke tahun, dari kedewasaan saya, dari cara menulis. Kadang saya tersenyum geli melihat postingan saya di tahun-tahun lalu.

Menulis buat saya itu adalah mengobati, ada hal yang sulit saya bagi pada orang lain maka saya tulis lewat kata. Ketika saya sedih, bahagia dan hal-hal lain yang saya anggap menarik selalu saya ingin tulis. Bahkan, saya bisa tahu bahwa saya benar-benar mencintai laki-laki kalau saya mampu menuliskan sesuatu tentangnya.

Jika menulis itu mengobati maka membaca adalah obatnya. Dua hal yang tak terpisahkan, membaca dan menulis. Jika kamu suka menulis maka sudah pasti kamu harus suka membaca juga.

Jadi, ini tahun keempat usia blog ini. Entah kapan saya akan berhenti menulis di blog seperti saya berhenti menulis diary kemudian berganti media, atau bahkan saya berhenti menulis. Entah. 

Terima kasih kepada siapa saja yang menyempatkan membaca blog ini. Anggap ini adalah anniversary blog ini yang keempat hehe..

Panjang juga ya, postingannya :)


Salam,
Tristy

Minggu, 05 Juli 2015

Pulang

Mulai malam ini tinggal menghitung hari untuk pulang ke rumah :)

Insya Allah malam minggu besok sudah mamam masakan rumah dan melihat wajah-wajah orang kesayangan di rumah.

Seperti biasa menjelang cuti itu pekerjaan buanyak banget tapi saya happy dan semangat banget ngerjainnya karena setelah itu saya bisa mudik dengan bahagia. Sudah hampir tiga tahun merantau jauh dari rumah dan momen pulang selalu membahagiakan seperti ini.

Kadang dalam perjalanan entah untuk pulang ke rumah atau ketika balik ke rantau, diam-diam hati kecil bilang,

Sampai kapan ya harus begini ?

Kalau dulu saat belum merantau, bulan puasa gini saya malah lebih banyak buka puasa di luar. Bisa dihitung buka puasa di rumah. Hal yang sering dikomplain banget sama orang rumah.

Sekarang saat jauh gini baru kerasa deh, buka puasa sama orang rumah sesuatu yang "mahal". Sesuatu yang sangat diinginkan dan dirindukan.

Gitu ya, setelah mendewasa ternyata hal-hal yang kita inginkan adalah hal-hal sederhana yang sebenarnya pernah kita punya cuma kita abaikan :)

Soalnya katanya memang gitu, 

Sesuatu itu baru berasa berarti kalau jauh, hilang atau sudah nggak ada.

So, kalau kalian sekarang dekat dengan keluarga. Maksimalkan waktu sama mereka. Dengarkan cerita-cerita Ayah Ibu kalian. Cium kening mereka sesekali. Pijat-pijat kakinya yang telah menua sambil mendengarkan ceritanya.

Hal itu memang terdengar aneh tapi percayalah hal-hal itu yang ingin kalian lakukan setelah kalian mengerti,

"mahal"-nya pulang ke rumah..


Salam,
Tristy

Kamis, 19 Maret 2015

Beda Masa, Beda Pemahaman

Malam-malam saya beresin kost, siapin bahan masakan buat sarapan besok dan bersih-bersih kamar. Malam ini udah jam 21.00 WITA, orang-orang mah lagi tiduran sambil nonton TV eh ini saya malah beresin kamar. Akibat sore tadi pulang kantor ketiduran, jadilah sampai malam begini belum selesai urusan. Padahal sendirian juga di kost, kalau mau diabaikan, udahlah besok aja dikerjainya.

Tapi, nggak bisa euy ! Kepikiran kalau ruangan belum bersih, rapih dan besok belum siap masak itu nggak enak. Pokoknya harusnya dikerjain sekarang, walau udah malam sekalipun.

Kejadian itu buat saya keingetan sama ibu saya, beliau itu ibu rumah tangga sejati yang meninggalkan pekerjaannya sejak menikah. Ibu saya ini hobi sekali beresin dan bersih-bersih rumah. Beliau nggak suka rumah berantakan, kotor dan barang diletakan di tempat yang tak seharusnya. Interior rumah kami ini tak pernah sama setiap bulan, ibu selalu merombak tatanan barang di rumah. Bulan ini rak TV menghadap utara, mungkin bulan depan sudah menghadap selatan.

Saya sebagai anaknya dulu kadang suka stress, ya maklum dulu kan masih abege gitu dan dasarnya anak males. Punya ibu yang nggak suka rumah berantakan dan kotor, praktis saya sering dimarahi gara-gara saya suka asal-asalan gitu. Paling stress kalau hari libur, mood ibu "bongkar" tatanan rumah muncul, praktis kami anak-anaknya kudu bantuin sampai selesai dan kegiatan "bongkar" itu bikin capek sodara-sodara. Hari libur buat nonton kartun dan leyeh-leyeh sirna sudah T_T

Pernah suatu malam, ibu saya beres-beres dapur dan menyiapkan bahan masak buat besok. Saya bilang sama ibu saya,

Bu, kan bisa dikerjain besok aja. Udah malam juga.

Nggak bisa dek, kepikiran kalau belum dikerjain sekarang.

Dalam hati saya, ya ampun ibu lebay sekali ihh *sambil bantuin*

Pernah juga waktu ibu beresin rumah dan isi lemari, saya bilang,

Bu, nanti aja diberesinnya sekalian kan nanti berantakan lagi. Kan capek beresin ulang-ulang.

Ibu nggak betah lihatnya dek.

Dalam hati lagi, duh ibu saya ini deh.

=======

12 tahun kemudian dan ribuan kilometer jarak dari rumah, saya di kamar kost sedang beres-beres kamar dan menyiapkan bahan masakan buat besok pagi pukul 21.00 WITA. Udah malam,

kenapa nggak besok aja ?

Nggak bisa, nanti kepikiran kalau belum dikerjain.

Like mother, like daughter hehe

Sekarang saya bisa merasakan perasaan ibu saya, sebagai penanggungjawab rumah dan keperluan kami sehari-hari segala sesuatu harus berjalan baik, tidak boleh ada yang ditunda maupun dilewatkan. Kalau malam ibu belum siapkan bahan masakan, maka bisa jadi besok kami telat sarapan. Mungkin itulah yang buat ibu kepikiran kalau tidak dikerjakan malam itu juga :)

Setelah saya merantau jauh dari rumah dan tinggal sendiri, saya sebagai penanggungjawab rumah mini alias kamar kost, saya ini mirip sekali dengan ibu. Saya nggak betah kalau kamar berantakan dan kotor. Saya akan kepikiran kalau ada pekerjaan tidak dilakukan sekarang juga, seperti malam ini.

Saya berterima kasih dengan ibu menjadikan saya seperti ini. Love you, bu !

========

Ada hal yang bisa saya pahami di sini, bahwa beda masa itu beda pemahaman. Saya kecil mungkin tidak paham bagaimana perasaan dan ruang berpikir ibu saya, hingga sering komplain ke beliau. Hingga saya berada pada masa yang sama sebagai penanggungjawab rumah dan diri saya sendiri, baru saya menyadari, lebih dari sekedar paham.

Kepada adik-adik saya, kadang suka gemes karena mereka malas belajar. Dengan memarahi mereka, tak akan membuat mereka sadar bahwa belajar itu jauh menyenangkan dibanding stress beban pekerjaan karena mereka belum pada masanya bekerja seperti saya.

Mungkin di pekerjaan juga begitu, kadang kita sebal dengan atasan atau senior yang umurnya jauh di atas kita. Kita sebal dengan kebijakan, keputusan dan sikapnya atas suatu hal. Ingat, mungkin kita belum pada masa sebagai pimpinan dengan banyak tekanan atau masa umur lebih tua dengan banyak pengalaman.

Kalau kata Dee, Jembatan masa itu bernama kerendahan hati. 

Masa itu seperti pohon, saat kita menjadi akar tidak bisa merasakan bagaimana dahan diterpa angin dan saat menjadi dahan kita lupa rasanya menjadi akar.

Salam,
Tristy..